A N D R A PART 2 ( AKU YANG BRENGSEK )

5 Mar

Hari ini dimulai dengan acara penyambutan para mahasiswa dan sukarelawan di Balai Desa. Setelah itu kami memulai tugas yang sesungguhnya, yakni mengajar. Karena belum terlalu berpengalaman, aku hanya berdiri di sudut kelas, merekam aktivitas belajar mengajar yang secara bergantian dilakukan oleh Andra dan Anne. Mereka menggunakan gambar dan memperkenalkan nama-nama hewan dalam bahasa Inggris kepada anak-anak kelas empat SD. Andra menjelaskan dalam bahasa Indonesia, Anne membantu cara mengucapkan dengan benar. Mereka terlihat sangat kompak. Para siswa terlihat sangat antusias. Perhatian mereka terpusat pada Anne, si bule cantik berambut merah dan bermata biru. Entah dari mana perpaduan itu, yang jelas di mata anak-anak desa ini, Anne seperti boneka Barbie hidup.

Seusai sekolah, aku melanjutkan tugasku dengan mengawasi para mahasiswa di posko mereka. Banyak dari mereka yang mengeluh susahnya sinyal handphone dan internet. Sebagian sibuk foto-foto, sebagian sibuk mengisi waktu dengan berdiskusi dengan koordinator mereka, membahas kegiatan selanjutnya. Selamat datang bosan.

Malam hari adalah waktu istirahat dan bersenang-senang. Karena aku, Andra, Anne, dan Pak Harry adalah pihak kampus, kami diberi keistimewaan menginap di rumah Kepala Desa. Aku sekamar dengan Anne. Tempat tidurnya luas, terdapat atas empat tiang dengan kelambu yang siap digelar di malam hari. Hari ini aku terlalu lelah, tak sempat ngobrol basa-basi dengan Anne atau Andra, bahkan dengan Pak Harry. Begitu selesai berganti pakaian, aku langsung tertidur.

Paginya aku terbangun dengan perasaan lebih segar. Anne juga sudah bangun. Ia malah sudah rapi dan harum.

Morning, sleepy head,” sapa Anne ramah.

Morning. Semalam aku benar-benar capek, Anne,” sahutku menggeleng-geleng.

Yeah. Aku bisa melihatnya. Tidakkah kau dengar semalam kami ribut bermain kartu?”

“Tidak. Aku tidak dengar apa-apa.”

“Seru sekali. Aku hendak membangunkanmu tapi Andra melarangku. Katanya ini pengalaman pertamamu berpetualang, jadi wajar kalau kau capek sekali. Benarkah?”

Aku tertawa kecil. “Yeah. First time. Aku anak kota, tidak pernah ke tempat seperti ini.”

I see.”

Kemudian aku mandi dan bersiap ke sekolah bersama tim yang berbeda. Ibu Kepala Desa sudah menyiapkan kami sarapan berupa nasi panas yang mengebul, berbagai jenis ikan bakar, terong tumis, dan perkedel jagung.

“Pagiii…” aku memberi salam pada semua yang ada di meja makan, Pak Kepala Desa, Pak Harry, Andra, dan Anne.

“Silakan, silakan…” Ibu Kepala Desa menyilakan dengan ramah.

“Maaf ya, Bu. Saya tidak ikut bantu-bantu. Saya benar-benar capek dan telat bangun,” kataku tak enak pada Ibu Kepala Desa, Bu Tini.

“Ah, tidak apa-apa. Toh Andra juga sudah bantu Ibu goreng ikan. Katanya Ze tidak suka ikan bakar, ya?”

Aku menoleh pada Andra. Ia tidak berekasi apa-apa, hanya menatapku.

“Terima kasih, Bu Tini,” Lalu kami semua mulai makan.

Hari ketiga berada di desa Roso. Para mahasiswa mulai mengerjakan kewajiban mereka, pengabdian kepada masyarakat dengan berbagai bentuk. Kerja bakti, membersihkan selokan, parit, mengecat kantor kecamatan, bahkan membantu beberapa petani memetik hasil kebun mereka. Imbalannya, para mahasiswa membawa pulang banyak pisang dan ubi kayu. Pisang kepok dan ubi kayu inilah diolah oleh mereka di sore atau malam hari sebagai bentuk acara “kumpul-kumpul”.

Sementara Andra, Anne, Pak Harry, aku dan para koordinator lapangan setiap malam berkumpul di pos siskamling yang khusus mahasiswa renovasi sebagai tempat musyawarah. Bagiku sesi inilah yang terberat. Karena aku harus berhadapan dengan Andra, tak ada kesempatan untuk menghindar. Sikapku yang diam tanpa ide atau inisiatif memaksa Pak Harry menunjukku sebagai notulen rapat. Mungkin ia mulai meragukan kemampuanku.

“Mungkin kita tidak harus melulu mengajar Bahasa Inggris,” usulku, membuat semua kepala menoleh padaku.

“Bagaimana?” tanya Pak Harry.

“Kita bisa story telling,” jelasku. “Di pelajaran Bahasa Indonesia, anak-anak jurusan Bahasa Indonesia pasti punya ide. Malin Kundang atau Si Pitung?”

“Betul, betul,” anak-anak yang lain mulai mencatat dan berbisik soal ide-ide.

“Atau Si Itik Buruk Rupa karya Hans Christian Andersen,” Andra bersuara.

“Kamu punya bukunya?” tantangku.

“Ayolah, Ze,” balas Andra. “Siapa yang tidak tahu cerita Itik Buruk Rupa? Malin Kundang atau Si Pitung sudah banyak di buku-buku pelajaran mereka,kan?”

“Kita butuh cerita yang menginspirasi,” aku menegaskan.

“Itik Buruk Rupa sangat menginsipirasi,” Andra mencoba meyakinkan.

“Setuju, setuju.” Yang lain berseru dengan semangat.

“Bukunya?” seseorang bertanya.

“Kurasa Ze sudah hapal ceritanya dan bisa mengisahkannya,” Andra berkata padaku, dengan penekanan tertentu.

“Ya, Ze,” Pak Harry setuju. “Kau bisa, kan?”

Aku menatap Andra dan Pak Harry bergantian. “Baiklah.”

“Oke kalau begitu. Meeting adjourned. Selamat malam.”

Kami membubarkan diri. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Terlalu dini untuk tidur, tapi desa ini sudah sangat sepi. Jalanan setapak dan berbatu-batu ini sudah tidak dilalui kendaraan. Cahaya dari rumah-rumah penduduk yang menuntun kami kembali ke rumah Pak Kepala Desa.

Pak Harry dan Anne berjalan berdampingan. Jarak mereka sedikit jauh di depanku. Sayup-sayup kudengar mereka membicarakan tentang Sydney dan Opera House. Australia. Finding Nemo.

“Ze,” Andra memanggil dari belakang.

“Ya?” jawabku tanpa menoleh.

“Besok kita akan jalan dua kilo atau lebih menuju sekolah. Kamu bisa?”

“Bisa.”

Andra mempercepat langkahnya. Kupikir ia mau berjalan beriringan denganku, ternyata ia menyusul Anne.

“Glad to have you back,” katanya pada Anne.

“Anytime,” sahut Anne tersenyum.

“Kau ingat kopi pekat andalanmu itu?”

“Ya. Kau mau aku buatkan?”

“Yes, please.”

“Dengan senang hati.”

Berat. Melihat Andra saja sudah cukup berat. Lalu menyaksikan keakrabannya dengan Anne, hari-hariku akan semakin berat.

~~~

Perjalanan menuju SD Negeri 47 cukup berat. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul  enam kami berangkat. Kami harus melalui jalanan berbatu, sempit, melewati hutan kecil yang banyak duri dan dahan-dahan patah. Sesekali kami bertemu dengan segerombol anak yang berangkat sekolah bersama-sama. Meski dengan pakaian warna putih kumal dan rok atau celana merah yang sudah memudar, semangat mereka mencerahkan wajah-wajah polos penuh keyakinan itu.

Kami sampai di sekolah. Aku mengatur napas, mengelap wajahku yang bersimbah keringat. Jam menunjukkan pukul tujuh. Lima belas menit lagi aku memulai tugasku. Si Itik Buruk Rupa.

Andra berdiri di dekatku. “Kamu keringetan,” katanya.

“Kamu tidak,” balasku sambil kipas-kipas menggunakan map plastik tipis.

“Perjalananku pernah lebih parah dari ini,” Andra memberitahu. “Kami bahkan pernah melewati rawa yang penuh buaya, hutan gelap, bahkan tanah yang sangat gersang.”

“Seperti di Dufan?” tanyaku. “Atau ride bertema Indiana Jones di Disneyland?”

Andra tertawa. Sejenak ia mengira aku bercanda, tapi karena tak ada senyuman di wajahku, tawanya menghilang. Wajahnya berubah tegang.

Bel tanda masuk berdentang. Anak-anak berbaris rapi, lalu masuk kelas dengan tertib. Tim kami diperkenalkan oleh Bu Rohana, guru Bahasa Indonesia. Aku mulai bercerita tentang Si Itik Buruk Rupa. Si Itik yang dilahirkan dengan bulu yang jelek, jauh berbeda dengan saudara-saudaranya. Karena kekurangannya itu ia sering diejek oleh sesama itik. Si itik selalu diperlakukan kejam oleh para itik, ayam, bahkan seekor anjing yang kelaparan pun tidak mau menerkamnya karena takut akan tampang itik yang begitu buruk. Karena sedih, itik selalu menyendiri di pinggir danau, menyaksikan angsa-angsa cantik dan anggun yang berenang di sana. Ia iri pada angsa-angsa itu, ingin pula menjadi angsa yang cantik. Musim panas dan musim dingin dilaluinya dengan kesendirian. Musim tiba, ketika Si Itik menyuruh angsa-angsa membunuhnya.

“Bunuh saja aku! Aku tak berguna! Aku sangat jelek!” kisahku, menirukan suara itik yang merintih lirih.

Anak-anak menyimakku dengan semangat. Aku sampai pada cerita ketika angsa-angsa itu berkata bahwa si Itik Buruk Rupa sudah menjelma menjadi angsa yang cantik berbulu indah. Selesai bercerita, anak-anak berepuk tangan gembira.

“Lagi! Lagi!”

“Terima kasih, Kak Ze,” Bu Rohana berucap khidmat, diulang oleh anak-anak.

“Terima kasih Kak Zeeeeee….”

“Sama-samaaaa…” jawabku terharu. “Lain kali kita ketemu dengan cerita yang berbeda, ya.”

Karena sudah menjadi pendengar yang manis dan antusias, aku membagikan cokelat Beng Beng ke setiap anak. Cokelat-cokelat yang sengaja kubeli di pasar beberapa hari yang lalu.

Tugas mengajar kami selesai hari ini. Ketika hendak kembali, rombongan kami berpapasan dengan mobil pick-up pengangkut sayur yang kembali dari pasar. Pak Harry bernegosiasi dengan supirnya, lalu kami semua naik di atas pick-up. Rasanya menyenangkan sekali.

“Kelas yang menyenangkan, ya,” kata Pak Harry pada kami semua. Ia akan berbahasa Inggris bila tinggal kami berempat. Anne yang kepanasan bersembunyi di balik tudungnya.  Andra bersedekap, raut wajahnya susah ditebak. Mata sayunya tampak memandang lurus ke depan. Sejak tadi ia diam saja.

“Oh iya, kalau Bapak pulang besok tidak apa-apa, ya?” tanya Pak Harry padaku dan Andra.

“Ada urusan ya, Pak?” tanya Andra.

“Tidak. Kupikir kau, Ze, dan Anne bisa meng-handle ini semua.”

Sure,” Anne setuju. “All set, all clear.”

“Andra, Ze?”

Andra menatapku tiga detik. Ia seperti dihadapkan pada keputusan yang berat.

“Aman,” jawabnya enggan.

“Aman,” jawabku.

Mobil berhenti di depan pasar. Kami semua turun, lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Tini. Siang yang terik membuat kami lelah dan lapar.

“Mungkin malam ini aku nginap sama Purna saja,” Andra memberitahu dalam bahasa Inggris. Mungkin pada Anne atau Pak Harry, tapi jelas bukan padaku.

“Kenapa?” tanya Anne.

Andra mengangkat bahu. “Mau main kartu.”

Can I come?”

“Oh yeah. Kau pasti kalah.”

We’ll see!”

“Ze?” Anne bertanya padaku. “Kau tidak ikut?”

“Sorry, I don’t play cards. Tidak mengerti.”

“Ah, sayang sekali.”

“Tapi aku bisa datang membuatkan kalian camilan dan kopi?” aku menawarkan diri.

“That would be perfect!”

Malamnya, dibantu Bu Tini dan beberapa mahasiswi, aku membuat pisang dan ubi goreng untuk teman-teman yang sedang asyik bermain kartu. Mereka yang kalah wajahnya dihias oleh bedak dan lipstick. Dan wajah yang sudah banyak bedaknya itu Andra. Yang semangat menggosokkan bedak Anne. Mereka tertawa-tawa gembira. Pemandangan itu mengundang decak iri beberapa mahasiswi dan kaos tak berlengan Anne menjadi pemandangan segar di mata mahasiswa-mahasiswa culun. Mereka jelas makin semangat main kartu. Mungkin sengaja kalah supaya mukanya bisa dipegang-pegang sama Anne.

Andra? Lucu juga sebenarnya mengingat bahwa aku masih bisa tenang menghadapi Andra. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kuutarakan padanya, tapi lidahku terlalu sering kelu, atau kebanyakan sinis yang terlontar. Beberapa kali Andra bergelagat seperti ingin mengajakku bicara, tapi aku selalu menghindar. Mungkin aku marah padanya. Aku kecewa. Ia tidak pernah memberiku kabar, tapi mungkin ia punya alasan. Alasan apa? Selain mungkin sudah tidak menganggapku penting. Sampai sekarang aku masih bingung. Andra tidak melakukan apa-apa, ia hanya pergi. Tapi itu menyakitiku. Ketiadaannya adalah lukaku. Sikap diamnya menyiksaku.

Jam menunjukkan pukul sepuluh. Anak-anak masih bermain kartu. Wajah Andra sudah penuh bedak. Sementara aku sudah mengantuk dan harus kembali ke rumah Bu Tini. Jarak rumah Purna dan Bu Tini tidak terlalu jauh, hanya beberapa rumah. Tapi jalanan sudah sangat gelap dan sepi. Mengerikan juga kalau aku harus berjalan sendiri.

“Aku temani kamu pulang?” tanya Andra. Rupanya ia sudah membubarkan diri.

“Mukamu penuh bedak,” kataku menunjuk wajahnya.

Andra mengelap wajahnya asal. “Mudah-mudahan aku masih keliatan ganteng,”

Aku tertawa kecil. Andra tersenyum, lalu mulai berjalan menemaniku. Sepanjang jalan yang senyap rasanya canggung, tapi mulai mencair sedikit. Ini pertama kalinya sejak kami tiba di desa ini aku dan Andra benar-benar berdua. Saja.

“Ibumu gimana?” tanya Andra memulai.

Oh, kau tahu benar, Andra. Melontarkan pertanyaan yang membuatku senang.

“Baik,” jawabku singkat.

“Masih sering bepergian?”

“Sudah tidak. Sekarang dia lebih banyak di rumah.”

“Hm. Jadi siapa Ryan?” tanya Andra tanpa disangka-sangka.

“Ryan temanku,” jawabku tinggi.

“Teman?”

“Kamu tahu dari mana tentang Ryan?” desakku.

“Tau saja,” jawab Andra penuh rahasia.

“Kami berteman. Dekat, tapi tidak sama antara kamu dan Anne.”

“Anne?” ulang Andra. “Kenapa Anne?”

“Please, Andra,” ujarku sinis.

“Kamu pikir ada apa-apa antara aku dan Anne?”

“Kamu yang bilang begitu. Aku tidak bilang apa-apa,” kelitku.

Andra tertawa sambil menggeleng tak percaya. Jadi mungkin tidak ada apa-apa. Aku tidak mendebatnya lagi. Kami sampai di rumah Bu Tini. Andra mengantarku sampai ke pintu.

“Ze, aku dan Anne hanya berteman,” Ia menjelaskan di balik bahuku. “Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Tapi kamu tahu, kan. Begitulah teman.”

“Terima kasih atas informasimu, Andra,” sahutku. “Tapi aku tidak bertanya. Ada apa-apa pun aku tidak peduli.”

“Begitu?” tanya Andra. Nadanya seperti terlalu yakin akan pikirannya. Aku memandangnya tak suka. Sejak kapan Andra berubah jadi songong?

“Kamu punya Paracetamol atau semacamnya?” tanyanya membingungkan.

“Kamu kenapa?”

“Kepalaku sakit sekali. Sudah lama aku trouble sleeping. Zona waktu.”

Berbulan-bulan setelah kepergian Andra, aku pun kesulitan tidur. Aku bisa terjaga sampai pagi, berteman dengan sepi dan suara-suara ganjil di tengah malam. Apa benar hanya zona waktu yang menyebabkan Andra susah tidur?

Aku mengendap masuk, pelan-pelan masuk ke kamar, mencarikan obat untuk Andra di ranselku. Dapat. Kemudian aku keluar. Andra menunggu di teras.

“Kamu seharusnya ikut hipnoterapi atau semacamnya,” kataku, duduk di samping Andra. “Atau tenggelamkan dirimu dengan kesibukan sampai kamu capek.”

“Sudah. Aku pernah ikut terapi sekali, terapisnya cantik sekali. Dia terus-terusan berkata aku hanya perlu ‘let go’. Apa pula maksudnya itu?” Andra mendengus.

“Sekarang kamu sudah di Indonesia, Andra. Kamu pasti bisa tidur.”

Andra menelengkan kepalanya. “Kupikir justru di situlah letak masalahnya, Ze,” ujarnya. “Berat sekali.”

“Apanya?”

“Tidak tahu,” Andra mendesah. “Kamu, Ze. Masalahnya kamu. Kamu membuatku melantur, bingung, kehabisan kata.”

Aku sedikit terhenyak.

Andra berdiri dengan gusar. Ia menatapku serius. “Ikutlah denganku, Ze. Aku ingin kembali waras.”

Dan kali ini aku benar-benar terhenyak. Andra memintaku ikut ke Amerika?

“Aku tidak mengerti, Andra.”

“Baiklah,” Andra mengatur napas. “Siapa dia?”

“Siapa apa Andra?” tanyaku bingung.

“Yang membuatmu seperti sekarang. Berubah.”

“Kamu yang ingin aku berubah, Andra,” ujarku dengan suara bergetar marah. “Ryan hanya teman baikku. Entahlah, mungkin memang terjadi ‘sesuatu’ dengan kami, tapi kami hanya berteman. Dan sekarang kamu bilang aku berubah?”

Hening beberapa saat.

“Tapi aku tidak mempersiapkan diri,” ujar Andra kemudian. “Hatimu sudah berubah.”

“Hatiku?”

“Kamu jatuh hati pada orang lain, Ze?”

“Bukankah itu maumu, Andra?” tanyaku. “Apa kamu sudah lupa? Kamu yang selalu berceloteh tentang penting bagiku untuk mengalihkan perhatian darimu.”

“Tapi bukan hatimu. Berat bagiku, Ze.”

“Jangan bicara soal berat, Andra,” cemoohku. “Kamu tidak tahu bagaimana beratnya hidupku di sini. Setiap hari selama kepergianmu, aku terus bertanya-tanya di mana dan bagaimana kamu. Dan sekarang, kamu di sini, muncul begitu saja, setelah semua yang terjadi, mengabaikanku, dan sekarang memintaku ikut denganmu ke Amerika?”

Kemudian hening lagi. Andra tampak begitu emosional, bahunya melorot. Matanya tampak semakin sayu.

“Aku sudah terlalu lama berduka cita karenamu, seolah-olah kamu sudah meninggal,” ucapku pelan.

“Apakah itu lebih baik?” tanya Andra sedih. “Seandainya aku meninggal?”

“Kamu akan semakin membuatku menderita,” jawabku jujur.

“Kamu akan bebas hidup tanpa memikirkanku, Ze.”

“Aku capek merindukanmu, Andra!” seruku putus asa.

“Aku capek mengabaikanmu,” balas Andra datar. “Berpura-pura bahagia di tanah orang sementara hatiku tetap tak bergerak ke orang lain. Kamu bisa bayangkan bagaimana menggodanya teman-temanku di sana. Party di college bar setiap weekend, mabuk, one night stand—“

One night stand?” potongku ngeri.

Andra menarik napas dan mengembuskannya keras. “Kamu benar-benar ingin tahu kehidupanku di sana? Tak seindah bayanganmu, Ze.”

Aku menggeleng. Bayangan Andra menghabiskan satu malam bersama seseorang, seks dalam keadaan mabuk yang selama ini hanya kulihat di film-film remaja Amerika. Tak kusangka Andra… Napasku tersengal. Tenggorokanku tercekat air mata. Aku tak tahan lagi berada di sini. Aku mau pulang.

Esoknya aku berangkat pagi-pagi dengan Pak Harry. Aku beralasan Ibuku sakit. Anne mengantar kami sampai terminal.

“Salamku untuk Ibumu,” kata Anne berbaik hati.

“Terima kasih.”

“Oh, hampir lupa,” Anne meraih secarik kertas dalam saku jaketnya, menyerahkannya padaku. “Setengah lima pagi tadi Andra berangkat naik gunung. Baru kembali sore nanti. Dia menitipkan ini padamu.”

Naik gunung? Sejak kapan Andra… Sudahlah, tak perlu ada pertanyaan seperti itu lagi. Aku tak mengenal Andra lagi. Mungkin sejak hari ini pun aku sudah harus berhenti mencintainya.

Bus kami berangkat. Aku memilih duduk di belakang, menyendiri, mempersiapkan mental untuk membaca surat dari Andra. Apa lagi kali ini?

Dear Ze,

Maafkan aku. Aku tidak memintamu ikut ke Amerika dengan cara yang pantas. Sebentar lagi sekolahku selesai. Mungkin aku akan benar-benar menetap.

Maafkan aku, lagi. Mengungkit soal one night stand begitu saja. Aku jadi ingat yang terjadi di malam ulang tahunku. Kau ingat, Ze? Kita hampir saja ‘melakukannya’. Kau berdiri di sudut kamar, begitu nyata, begitu transparan, begitu cantik. Tapi, tidak, kita tidak melakukannya. Aku kecewa sebenarnya, tapi tidak. Itu keputusanmu. Sekarang ini, bila kuingat lagi, sejujurnya aku lega kita tidak begitu. Malam itu kau menangis, sedih sekaligus merasa berdosa. Untuk apa, Ze? Kau melakukan hal yang tepat. Dan menyadarkanku satu hal, setelah apa yang kulakukan malam itu, kau tidak harus menungguku bertahun-tahun ini. Aku bukan pria yang pantas kau tunggu.

Aku dihantui perasaan bersalah. ‘Kulampiaskan’ amarahku ke mana-mana. Kupikir, jarak dan zona waktu yang terbalik membuatku gampang melupakanmu. Tapi, malam itu terlalu magis untuk kulupakan. Aku sadar benar, cintaku padamu tidak lebih besar daripada nafsuku. Aku membenci diriku, menghukum diriku dengan menghilang seenaknya. Mengertilah, Ze. Kuharap kau mengerti.

Maafkan aku, sekali lagi. Ini mungkin surat terakhirku untukmu. Permintaanku sederhana. Lupakan aku. Terbanglah ke seluruh penjuru dunia, jelajahi Eropa atau menginap di Iceland untuk melihat pemandangan aurora yang langka. Pergilah, asal jangan menemuiku. Gelar master atau professor yang kudapat di Amerika tidak cukup buatku pantas untukmu.”

Aku yang brengsek,

Andra

Tanganku bergetar. Sekujur tubuhku mendadak dingin. Surat itu basah oleh air mataku yang terus berlinangan. Aku memaafkanmu, Andra. Tapi bagaimana bisa aku hidup tanpa kenangan-kenangan kita?

A N D R A (PART 1)

1 Mar

Jadi, mungkin sampai di sini saja ceritaku dengan Ryan. Atau tidak. Atau iya. Entahlah. Aku menyerahkan segala takdirku kepada Dia Yang Maha Baik. Perasaanku pada Ryan jelas ada, tapi tidak sebanyak yang bisa kurasakan pada Andra. Andra, yang entah di mana sekarang. Masih kunanti, setiap hari kurindukan. Ryan telah memutuskan untuk memilih hidupnya sendiri, memilih orang lain. Kurasa sejak awal ia sudah tahu kalau aku tak lebih sekadar angin penyejuk di sore musim kemarau yang panjang. Hanya sebentar, tapi bisa membuka harapan akan hujan. Atau sebaliknya, dialah anginku di musim kemarau.

Setahun berlalu. Ryan dan aku masih berkomunikasi dengan baik. Dia masih sering mengirimiku sms, sekadar tanya kabar. Menanyakanku apakah kuliahku sudah selesai. Sedikit lagi, temanku. Tinggal skripsi. Ujian tutup menanti bulan depan. Kampus memang terasa jauh lebih sepi tanpa kelebatmu di mana-mana. Tak pernah lagi kutemui pria seriang dan seoptimis kau, Ryan. Hikmah dari pertemuan kita adalah, kau menulariku optimisme itu. Aku berutang selamanya padamu. Kuharap kau bahagia bersama siapa pun pilihanmu, Ryan. Meski diam-diam aku berharap kau dan Pratiwi tidak berhasil, lalu kita kembali lagi menjadi kita. Beatles dan Bee Gees. Bisakah?

Terkadang, bila rinduku padamu datang mengganggu, aku memutar lagu-lagu Beatles. Seperti Beatles Day dalam playlist-ku. O-bla-di O-bla-da dengan lirik dan musik yang ceria mengobati rinduku sedikit.

“O-bla-di… O-bla-da… Life goes on… brah! La… la… how the life goes on…”

Bahkan di era keemasan Beatles pun, beberapa dekade lalu, mereka sudah mengajarkan manusia untuk melanjutkan hidup dengan cara yang gembira. Mampukah kita melakukannya di zaman sekarang? Gembira karena melanjutkan hidup? Terima kasih untuk kalian, The Beatles, Lennon, McCartney, Harrison, dan Starr. Kalian menguatkan alasanku untuk terus merindukan Ryan dengan caraku sendiri.

Ada malam-malam ketika aku lelah merindukan mereka. Andra, sudah terlalu lama aku menunggumu. Setahun berlalu, mungkin kau sudah kembali ke Amerika. Kabarmu nihil. Pelan-pelan, Ryan pun menghilang dari rindu yang tidak sempat kukirimkan kepada angin, hujan, ataupun langit

Waktu terus berlalu. Aku  wisuda kemarin. Tak ada perayaan khusus. Hanya aku dan ibuku di rumah. Ibu masak khusus untukku malam itu. Katanya aku boleh minta apa saja. Aku pesan cumi telur asin.

 “Jadi, apa rencanamu?” tanya Ibu. Aku membantunya memotong-motong wortel untuk sup.

“Aku belum tahu mau kerja di mana, Bu,”

“Pelan-pelan saja. Kau tahu, Ibu sudah memutuskan untuk terus di sini. Ibu tidak akan ke mana-mana lagi.”

Mataku melebar menatapnya. “Benar, Bu?”

“M-hm.”

Kalau Ibu terus menemaniku, aku rela menghabiskan setiap detik bersamanya. Meskipun dengan gelar Sarjana Sastra yang sudah kugenggam, aku tak malu jika tak harus bekerja sekarang. Mungkin aku lebih mau menghabiskan waktu ke mana-mana dengan Ibu ketimbang kerja.

Namun aku berubah pikiran keesokan harinya. Pak Harry, ya, Pak Harry yang ITU, kemarin memintaku mengikuti program mengajar di desa Roso. Program yang khusus dibuat oleh universitas untuk mendampingi mahasiswa-mahasiswa yang menjalankan program KKn terpadu, yakni kuliah kerja nyata diselingi dengan program pengajaran lapangan. Katanya program ini khusus dibuat untuk anak-anak yang fresh-graduate dan mau jadi sukarelawan. Sukarelawan akan berada di sana dua minggu untuk membimbing.

Tawaran ini membuatku tertantang. Aku bersedia ikut. Pak Harry begitu yakin padaku. Menurutnya aku cocok dan mampu. Tambahnya lagi, katanya aku manis. Jadi mahasiswa-mahasiswa itu pasti nurut. Aku tidak mengerti dengan pujian “manis” itu, tapi sudahlah. Aku pun sudah tak takut lagi dengan pembawaan Pak Harry yang begitu memesona. Toh dia tak mungkin macam-macam denganku di sana.

Malamnya, aku langsung mengemasi barang-barangku. Waktu kusampaikan ini pada Ibu, ia tersenyum lebar sekali. Ia senang akhirnya aku mau ikut program “bersosialisasi”. Besoknya ketika mengantarku ke bus yang akan membawa rombongan para sukarelawan dan mahasiswa, Ibu memastikan sekali lagi.

“Dua minggu di desa? Kau yakin?”

“Yakin, Bu. Lagipula, aku juga tidak pernah ke mana-mana selama ini, kan?”

“Ya sudah. Kamu hati-hati. Banyak baca doa.”

“Siap.”

Aku turun dari mobil dan segera bergabung dengan para mahasiswa. Pak Harry sudah datang, sudah keren, dan sudah wangi.

“Ah, Ze,” Pak Harry menyambutku. “Selain kamu, ada dua volunteer lagi yang akan bergabung dengan kita. Satu native speaker, satu mahasiswa dari Amerika yang sedang penelitian di sini. Anak sini juga dulu.”

Anak sin–

“Andra!” Pak Harry berteriak.

Andra?!

Kutunggu dengan berdebar. Benar dia. Andra di sini. Andra berdiri di depanku, benar-benar di depan mataku bersama seorang bule cantik bertopi bundar. Andra terlihat kaget melihatku, tapi tidak sekaget diriku yang terbelalak. Ia tampak terkejut selama beberapa detik, namun masih mampu menguasai dirinya.

 Pak Harry menunjuk Andra.

“Mungkin kau sudah kenal dengan Andra?”

Andra mengangguk kecil padaku. Si bule cantik mengulurkan tangannya padaku.

“Hai, nama saya Anne. Senang bertemu denganmu,” katanya dengan bahasa Indonesia yang sedikit terbata namun jelas.

“Ze,” aku menjawab.

“Pardon?”

“People call me Ze. Zet, i.”

“Oh, okay,” Anne tertawa. “Kuharap kita semua bisa berbaur dan memiliki waktu yang menyenangkan.”

“Yah,” aku setuju. Tapi aku sedikit menyesali keputusanku. Andra di sini! Bagaimana mungkin aku memiliki waktu yang menyenangkan? Andra sudah kuanggap hantu selama ini. Pergi dan hadir semaunya saja. Aku tidak bisa tenang.

Waktunya berangkat. Satu per satu mahasiswa naik ke dalam bus. Tugasku adalah mengecek nama dan keberadaan mereka berdasarkan urutan absensi. Meski berusaha terlihat sibuk, pikiranku tak berhenti memikirkan Andra. Andra yang sudah di sini. Andra yang akan bersamaku selama dua minggu atau lebih. Mungkinkah lebih? Apa yang akan terjadi?

Di dalam bus kami belum bertegur sapa. Aku terlalu takut untuk memulai. Lagipula ia tampak biasa-biasa saja dengan keberadaanku di sini. Sikapnya santai. Seringkali ia bersenda gurau dengan Anne, berbicara dengan logatnya yang sudah sangat Amerika. Aku seperti tidak mengenali nada suaranya lagi. Ia berbeda kini. Rasanya seperti mendengar sayup-sayup percakapan sitkom Amerika, bukannya mendengar suara Andra.

Bus baru meninggalkan kota satu jam yang lalu dan aku sudah rindu pulang. Aku bingung, perasaanku campur aduk. Dua tahun lebih Andra pergi tanpa kabar, tanpa kuketahui keberadaannya, kini ia berada satu bus denganku. Situasi mungkin akan memaksa kami untuk bertegur sapa. Apa yang akan terjadi? Bagaimana caraku menghadapinya? Aku bahkan tidak berani menatap matanya, apalagi bicara dengannya. Rasanya terlalu kaku, terlalu dipaksakan.

Para mahasiswa begitu antusias dengan perjalanan ini. Sepanjang jalan mereka bernyanyi, riang gembira. Begitu bahagia tanpa beban. Terlihat Pak Harry menghibur para mahasiswi yang mengerumuninya dengan cerita-cerita masa mudanya yang banyak dihabiskan dengan wanita cantik. Ia tidak malu. Sadar dengan reputasinya sendiri, kupikir Pak Harry hanya sekadar ingin berbagi pengalaman.

Aku sendiri punya cara sendiri menikmati perjalan yang akan memakan waktu delapan jam ini. Aku membawa banyak bacaan, novel, majalah, dan teka teki silang. Dengan iPod-ku dan Rod Stewart, semuanya terasa baik-baik saja. Melalui jendela kulihat hijau di mana-mana. Tikungan-tikungan tajam dan tebing curam membuat suasana bus terasa senyap. Hanya terdengar sayup-sayup di bangku belakang.

Tantangan pertama dalam perjalanan kami berakhir. Setelah kelokan terakhir, bus berhenti di sebuah warung, memberikan kami kesempatan beristirahat, makan dan sholat.

“Kau menikmati perjalanan ini?” tanya Pak Harry padaku.

“Tentu saja, Pak,” jawabku, berusaha menunjukkan semangat.

“Kuharap kelokan-kelokan tajam tadi tidak membuatmu pusing.”

“Saya baik-baik saja, Pak.”

“Bilang kalau kau mual.”

“Baik, Pak.”

Pak Harry menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Aku mengikutinya. Kuhirup udara pedesaan yang segar. Kusimpan aroma daun-daun dan tanah yang basah dalam dadaku, lalu kuhembuskan napasku perlahan. Kemudian aku mengikuti Pak Harry masuk ke dalam warung. Ia memilih duduk bersama Andra dan Anne.

Pemilik warung mendatangi kami untuk menanyakan pesanan.

“Empat teh panas,” pesan Pak Harry.

“Tiga,” Andra buru-buru meralat. “Ze tidak suka minum teh kecuali dicampur susu. Jadi teh panas tiga, teh susu satu.”

Andra memandangiku. Aku balas memandangnya, lalu menunduk. Anne tidak mengerti, tapi wajahnya tetap senyum.

“Oke,” Pak Harry mengerti. “Kalian mau makan apa? Anne, di sini kita hanya punya beberapa mie instan, nasi putih dan ikan bakar.”

“Instant noodle, please,” Anne menjawab santai. Dari sikapnya yang cool, terlihat Anne sudah melakukan banyak perjalanan. Ia mudah beradaptasi dan bisa survive di mana pun ia berada.

“Ze, Andra?”

Andra menjawab. “Mie instan untukku dan Ze. Yang berkuah.”

Ibu pemilik warung mencatat pesanan kami dan menghilang ke dapurnya. Pak Harry, Anne, dan Andra asyik berbincang. Aku hanya diam mendengarkan. Anne kemudian penasaran dengan kebisuanku dari tadi, lalu bertanya dalam bahasa Inggris.

“Bagaimana denganmu, Ze? Apa yang membuatmu ingin bergabung dengan tim ini?”

“Pak Harry mengajakku,” jawabku. “Kebetulan aku baru lulus minggu lalu dan belum ada tawaran kerja, jadi aku pikir kenapa tidak?”

“Kamu sudah lulus?” tanya Andra. Aku belum sempat menjawab, Anne langsung menyambar,

“Good. Kuharap kau tidak bosan. Andra dan aku sudah lama melakukan ini. Berkeliling dari satu desa ke desa lain. Kami sudah sangat terbiasa dengan suasana desa dan menghadapi anak-anak itu. Old good times. Right, Andra?” Anne tersenyum pada Andra.

Andra mengangguk sambil berdeham canggung. Satu kenyataan terungkap. Rupanya selama ini Andra tidak berada di Amerika. Dia di Indonesia. Ia tidak memberitahuku. Ia membiarkanku menunggu dan menunggu.

“Hanya tiga bulan sebenarnya, sewaktu libur musim panas,” lanjut Anne. “Karena aku kembali ke Australia dan Andra kembali ke Amerika. Lalu Pak Harry dari kampus memberitahu kami tentang program ini. Bertanya apakah kami ingin bergabung lagi. Karena aku sudah lulus dan kampus Andra sedang spring break, jadi kami bergabung lagi.”

Oh. BEGITU. Berusaha kucerna semua informasi ini. Jantungku berdegup cepat, sekujur tubuhku berkeringat. Reaksi umum tubuhku bila setengah mati kutahan gejolak perasaanku. Pelayan meletakkan teh kami di meja. Aku mengambil gelasku, lalu menghirup tehku dengan tangan gemetar. Hal ini membuat tehnya tumpah sedikit membasahi celanaku. Tak ada yang memperhatikan kecuali Andra. Ia menyodorkanku beberapa lembar tissue.

Mie instan kami datang. Ketika Andra mengulurkan tangan untuk mengambil botol kecap, lengannya menyambar mangkuk mienya sendiri. Kuahnya tumpah, mienya berceceran di meja. Anne berseru kaget.

“Napkin! Napkin!”

 Panik, aku berdiri menghindari kuah panas yang bisa saja mengenaiku. Pak Harry dan Anne membantu membersihkan kuah di meja. Pelayan membersihkan mie kuah yang malang itu.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku pada Andra.

“Yah, hanya sedikit basah,” Andra sibuk membersihkan tumpahan kuah yang mengenai celananya.

“Kamu mau pesan lagi?”

“Tidak usah. Untung mangkuknya tidak pecah, jadi kita tidak harus ganti,” guraunya.

“Ya, untung saja.”

Suasana kembali damai. Andra sudah kehilangan selera makan. Tapi ia sudah cukup puas dengan teh panas dan kacang telur. Setelah selesai makan, sholat, dan memeriksa rombongan, kami melanjutkan perjalanan. Di bus, Andra tidak lagi memilih duduk bersebelahan dengan Anne. Ia duduk menyendiri di pojok belakang. Wajahnya gusar. Sempat terpikir olehku untuk duduk di sampingnya. Tapi aku tidak tahu harus berkata atau bertanya apa. Jadi aku di sini saja, dengan iPod dan teka teki silangku.

Perjalanan masih panjang. Lelah menghinggapi kami semua. Tak ada lagi yang bersuara. Sebagian besar sudah tidur. Apalagi sekarang gelap dan senyap. Hanya lampu bus yang menyorot ke depan yang menjadi sumber cahaya Pak supir. Kantuk merayapi mataku, tapi aku tidak bisa tidur. Berkali-kali aku memutar badan ke kiri dan ke kanan, tapi aku tak kunjung terlelap. Kakiku dingin. Aku lupa bawa kaos kaki. Sementara dingin semakin menggigit. Aku memeluk lenganku rapat-rapat.

Kudengar suara langkah kaki mendekat. Aku menoleh, melihat Andra sedang berjongkok di belakang kursiku.

“Hei, Ze,” bisiknya. “Kamu dingin?”

“Iya,” aku balas berbisik.

“Aku boleh tidur di sampingmu?”

“Boleh.”

Andra pun duduk di sampingku. Kami bertatapan.

“Tidurlah…” kata Andra.

“Aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Kamu di sini,” aku mengakui.

“Benarkah? Aku malah tidak bisa tidur di belakang karena kupikir kamu kedinginan,” Andra terkekeh.

Aku mengangkat alis.

“Tidurlah, Ze,” kata Andra sekali lagi, lalu membalikkan badannya menghadap ke jendela. Ia melipat tangannya ke dada. Beberapa saat kemudian, kudengar suara napasnya mulai teratur. Ia sudah tertidur.

Berusaha kurilekskan pikiranku, tidak terganggu dengan keberadaan Andra, tapi tidak bisa. Aku tegang sekali, tapi sekaligus bahagia. Aku tahu bahwa Andra tahu benar dengan keberadaannya saja sudah bisa membuatku tenang, hangat. Kenapa kau selalu mengenalku sedalam ini, Andra?

Sedikit Cinta, Seperti Patah Hati

8 Feb

Beberapa jam setelah kepulanganku dari Milan Café. Perasaanku masih sulit kujelaskan. Pratiwi. Pratiwi. Pratiwi. Nama itu terus terngiang di kepalaku bak suara lebah mendengung memenuhi telinga, atau apa pun metaforanya. Dari namanya saja, kupikir Ryan sudah jelas salah memilih orang. Lalu postur tubuh cewek itu yang tidak seimbang dengan tinggi Ryan yang menjulang nan kurus. Kutebak dari senyumannya, Pratiwi adalah makhluk mungil palsu tidak berperasaan—

Segera kuhentikan pikiranku. Prasangkaku akan semakin ke mana-mana bila kubiarkan terus berkelana selama beberapa jam ke depan. Aku tidak mungkin segila itu kan, membenci pacar temanku tanpa sebab?

Sikap uring-uringan ini terus kubawa sampai beberapa hari ke depan. Aku tidak tahu pasti apa yang kurasakan, tapi aku tidak ingin juga mencari tahu atau menelaah lebih jauh. Kuliah perdana sudah dimulai sejak kemarin. Aku kembali ke kampus dengan keadaan yang tidak lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Teman-temanku semakin enggan mendekati, walaupun sebenarnya aku tidak pernah benar-benar punya teman.

Menginjakkan kaki di kampus ini, aku merasakan kehampaan yang berbeda. Sewaktu Andra pergi, aku nyaris tidak mampu melanjutkan hari-hariku. Kulalui begitu saja, tiada emosi selain sedih dan muram. Sekarang, kemuraman itu seakan semakin berlipat. Baru saja aku merasakan optimisme yang tidak biasa dari Ibu, kini lenyap lagi. Nasehat Andra untuk melihat dunia selain dirinya tidak ada… tidak ada kekuatanku untuk memulai lagi.

 

~~

Tiga bulan berlalu. Kupikir aku hanya bisa menunggu satu orang saja, sekarang, aku bisa menunggu seorang lagi. Yang tidak kudengar kabarnya sejak malam perayaan kelulusanya. Aku lelah bertanya-tanya, ke mana kau selama ini, Andra? Kau sudah seharusnya pulang. Kau boleh pergi, tapi jangan terus menyiksaku dengan menghilang begitu saja. Lalu sekarang, aku harus bertanya, ke mana kau telah mengepakkan sayapmu, Beatles?

Siang itu aku berada di perpustakaan, pelarian anak-anak yang tak pandai bergaul sepertiku. Kudengar bisik-bisik yang jelas dari beberapa anak. Mereka melihat Ryan bekerja di sebuah bank. Dengan pakaian yang sangat rapi. Seperti bukan Ryan.

Bank? Beatles, kau bukan mengepakkan sayapmu. Kau membiarkan dirimu terkurung dalam sangkar. Aku mendengar sekali lagi, menunggu detail yang lebih. Mereka menyebut sebuah nama bank, yang terkenal dengan warna biru malam, berada di pusat kota. Bagus sekali. Terima kasih, telingaku. Aku harus menemui Ryan. Secepatnya.

 Jam menunjukkan pukul dua siang. Aku berdiri di depan Bank Biru Malam. Sebelum ke sini, kuperiksa dulu beberapa detail mengenai Ryan di Facebook. Pekerjaannya benar di bank ini. Foto-foto masa training masih memenuhi wall-nya.  Mereka benar, penampilan Ryan sudah jauh berbeda. Ia rapi, sangat manis. Lalu kucek relationship statusnya, tidak ada. Yang membuatku sedikit lega, barangkali dia tidak lagi pacaran dengan Pratiwi. Atau, mereka masih pacaran dengan cara dewasa tanpa embel-embel label di social media.

Semalaman kupersiapkan diriku, mencari kata-kata yang tepat untuk kuucapkan. Alasan yang tepat, karena aku bahkan bukan nasabah bank ini. Kuintip melalui pintu kaca. Antrian sudah tidak begitu padat. Kemudian mataku mencari ke arah teller. Tidak ada Ryan. Mungkin dia masih istirahat makan siang, tebakku. Aku menunggu dengan berdebar.

Seorang satpam menghampiriku.

“Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.

Apa, ya? Aku berpikir keras mencari jawaban.

“S-saya menunggu teman, Pak,” jawabku terbata.

“Siapa?”

Aku menggeleng bingung. “Tidak apa-apa, Pak, saya tunggu di sini saja.”

“Tapi di luar sini panas, Mbak. Mbak tunggu saja di dalam. Kan enak, dingin.” Ia menawarkan dengan ramah.

“Tidak apa-apa, Pak. Sudah biasa.”

Pak Satpam itu memandangku heran bercampur iba. Mungkin yang ada dalam pikirannya adalah, cewek mana yang memilih menunggu panas-panasan di luar gedung bank yang sejuk? Tidak usah iba, Pak. Aku baik-baik saja, batinku miris. Aku mencari tempat yang teduh, menunggu di warung pinggiran. Menunggu lagi, layaknya penguntit putus asa.

Kusibakkan tenda warung itu dan terpaku ketika berhadapan dengan Ryan.

“Ze?” Ryan berseru kaget. “Kamu ngapain di sini?”

“Singgah ke ATM,” aku berbohong.

“Aku tidak tahu kalau kamu nasabah di sini,” katanya semangat.

“Oh, bukan. ATM ibuku.” Bohong lagi.  Dan ya, pura-pura kaget. “Kamu kerja di sini?”

“Iya. Ganteng, kan?” Ryan berpose. Senyum memenuhi wajahnya.

“Ganteng.”

“Ze, maaf. Aku harus kembali kerja.”

“Tidak apa-apa. Sebenarnya aku sengaja ke sini mencarimu,” ujarku terus terang.

Senyum Ryan hilang. Ia menatapku bingung. “Kamu sudah tahu aku kerja di sini?”

“Iyalah.”

“Lalu apa yang memaksamu untuk ke sini?” tanyanya serius.

“Belum pernah kulihat kamu seserius ini, Ryan,” kataku tertawa kecil. Rasanya seperti tawa ejekan.

“Jadi menurutmu ini lucu?” Ryan menunjuk pakaian rapinya. Tersinggung?

“Bukaaaan. Lucu saja, melihatmu, Beatles, berjiwa bebas, harus kerja di sini. Bank, Ryan? Seriously?”

“Kamu benar-benar membosankan, Ze,” Ryan mendengus marah. “Jadi aku akan selamanya jadi cowok yang berpakaian Beatles, lusuh, dan sempoyongan begitu? Ryan yang “itu”?”

“Aku suka Ryan yang “itu”.”

Ryan menggeleng tak percaya. Ia meninggalkanku, masuk kembali ke gedung yang membekap dirinya. Dirinya yang terpaksa berubah karena harus melanjutkan hidup, memenuhi tuntutan masyarakat akan seorang sarjana. Kenapa kita harus mengikuti kemauan mereka? Tidak bisakah kita hidup dengan cara dan prinsip kita sendiri?

Kemudian aku teringat Andra. Andra sudah membuka matanya lebih dulu, jauh sebelum Ryan melakukan ini. Andra lebih memahami apa yang harus dilakukan oleh seseorang untuk bisa merasa pantas, Ryan baru melakukannya, meski jauh terlambat. Tapi setidaknya Ryan sekarang paham. Hanya aku yang belum paham. Aku harus berhenti di sini. Yang harus kulakukan sekarang adalah… memahami. Dan menunggu Ryan pulang.

Arlojiku menunjukkan pukul lima. Aku memperhatikan beberapa pegawai cewek bergerombol pulang. Cewek-cewek ini memang tidak bisa jalan sendiri, ya?

Lalu cowok riang tapi moody itu keluar. Ia menarik risleting jaketnya sampai ke leher, sudah sangat siap pulang. Aku berjalan ke arahnya. Ia memandangku tanpa ekspresi. Sikapnya merajuk.

“Masih di sini?” tanyanya dingin.

“Maafkan kata-kataku tadi, ya,” ucapku sungguh-sungguh. “Aku tidak bohong, aku sengaja ke sini mencarimu. Aku berutang maaf.”

“Maaf?”

“Waktu di Milan Café, kita berdebat. Tiga bulan lalu.”

“Oh. Itu. Lupakan saja,” Ryan mendesah.

“Lupakan apa?”

“Sebenarnya kamu mau ngomong apa, Ze?” Ryan mulai kesal.

“Sori, Ryan. Jangan dengarkan aku. Sekarang, kamu mau temani aku jalan?”

“Jalan ke mana?”

“Jalan kaki.”

“Aku baru selesai kerja, berdiri hampir tujuh hari ini jam dan kamu minta aku temani kamu jalan kaki?” tanya Ryan dengan suara nyaring. Sekarang ia benar-benar kesal.

“Ayolah, Ryan. Kenapa kamu jadi tidak asik begini, sih? Apa bank ini sudah mengubah karaktermu yang riang gembira?”

“Ze, AKU CAPEK!”

Aku mengangkat alis, memandangnya. Sedikit menantangnya. Ryan menghembuskan nafas keras-keras, kebimbangan nampak jelas di wajahnya.

“Tidak usah tegang begitu, Ryan,” kataku tersenyum.

Ryan ikut tersenyum, masih sedikit terpaksa.

“Ke mana saja kamu selama ini?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Aku rindu.”

“Haha.” Aku tertawa skeptis.

“Memangnya kamu tidak?”

“Siapa bilang?”

“Jadi kamu rindu?”

“Menurutmu kenapa aku ke sini?”

“Ze, kamu ini…” Ryan menggeleng-geleng. Aku tertawa keras, lalu meninju lengannya sekuat tenagaku. Ia melenguh kesakitan. Sebelum ia membalasku, aku berlari ke trotoar menyelamatkan diri. Ryan mengejarku. Kami berlarian saling mengejar, tertawa-tawa, tak ada yang lebih menyenangkan. Kami masih berlari, ke pinggir jalan yang lebih ramai dengan riuh kendaraan yang berlalu lalang silih berganti. Aku lalu berhenti ketika napasku hampir habis.

“Kenapa kamu menemuiku, Ze?” Ryan bertanya, tidak lagi bercanda.

“Cuma ingin menyampaikan sesuatu yang harus kusampaikan sejak dulu,” jawabku sambil mengatur napas.

“Apa itu?”

“Aku tidak menyangka kita akan begini, Ryan. Pertemuan kita tidak direncanakan. Aku tidak pernah mau menjadikanmu pelarian,” pengakuanku mengalir.

Ryan menunduk. “Kalau diingat-ingat lagi, justru aku yang bersedia menjadikan diriku sendiri pelarian. Bukan begitu, Ze?”

Aku mengangguk. Ryan mengangkat wajahnya, menghindari tatapanku. Aku meraih tangannya.

“Ryan, maafkan aku.”

“Maaf kenapa, Ze?”

“Untuk semua yang terjadi antara kita.”

“Tidak ada yang perlu disesali, Ze. Kita masih bisa berteman.”

Berteman… “Kamu masih pacaran dengan Pratiwi?” tanyaku.

“Dia tidak seburuk perkiraanmu. Aku sayang dia,” ujar Ryan mantap. Ia balas menggenggam tanganku, menatapku sedih.

“Itu pilihanmu. Dan, seperti yang kamu bilang tadi. Kita masih bisa berteman, kan?”

Ryan mengangguk. Senyumnya mengembang, ia mempermainkan tanganku, menggoyang-goyangkannya seperti sepasang anak kecil yang sepakat berteman kembali. Aku mendekatinya. Ryan mengerti, lalu memelukku erat sekali. Dalam pelukannya kurasakan damai, persahabatan erat yang kurasa akan terus kami jalani. Perasaanku bercampur antara bahagia dan patah hati. Tidak, ini bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ini sedikit cinta yang harusnya bisa terbalas.

 

 

 

 

Belum Berakhir

31 Jan

Keadaanku cukup baik untuk saat ini. Meski Ibu masih senang menghabiskan waktunya di luar rumah, aku tak lagi merasa terlalu sendiri. Dia bersamaku setiap malam, melalui Skype, meski nyaris tidak bicara padaku. Ia hanya di sana, depan laptop yang membantunya melihatku, lalu sibuk melakukan aktifitasnya. Kebanyakan menelepon dan berdebat. Aku tidak keberatan. Aku bangga, dengan cara yang aneh.

Hal aneh lainnya adalah kehadiran Ryan di kampus yang sudah semakin langka. Kudengar ia sedang mempersiapkan diri dengan sidang akhirnya. Oh mungkin kerena itu, aku menyimpulkan dalam hati. Lalu aku bertemu dengannya siang ini. Benar aneh. Karena rambut gondrongnya kini sudah lenyap, dipangkas rapi. Aku nyaris tidak mengenalinya.

“Hai!” sapaku nyaring. “Kamu potong rambut untuk persiapan sidang?”

Ryan menyeringai. “Yeah. Sidangnya Rabu besok. Aku deg-degan.”

“Semoga sukses,” ucapku sungguh-sungguh.

“Thanks.”

Cuma itu? Kenapa Ryan tidak melontarkan kata-kata isengnya seperti biasa? Ia terlihat canggung.

“Kamu… keliatan lebih cerah,” kata Ryan kemudian.

“Aku?”

“Ya. Jangan-jangan Andra sudah pulang?” tanyanya mengejek.

Itu lagi. Aku mendengus, tak bisa memberi jawaban pasti. Aku mungkin tidak perlu bicara dengan anak ini lagi. Aku meninggalkannya. Ia mengikutiku.

“Makan soto ayam, yuk?” ajaknya.

“Udah kenyang.”

“Gimana kalo gorengan?”

“Lagi diet,” tolakku terang-terangan.

“Es krim?”

Aku menyerah. Kami berdua pun duduk di bangku taman dengan cone es krim masing-masing dalam genggaman.

“Apa yang baru darimu?” tanya Ryan.

“Tidak ada kecuali aku mulai bisa memahami Ibuku sedikit,” jawabku jujur.

“Ah, itu sebabnya kamu mulai ceria. Masa berkabungmu tentang kepergian Andra yang tidak jelas sudah hampir berakhir,” Ryan menyimpulkan seenaknya.

“Belum berakhir, Ryan.”

Ia tertawa. Kelihatan puas sekali dengan kata-katanya sendiri. Lalu handphone-nya berbunyi. Ia merogohnya dari saku, menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar. Ia menerimanya.

“Halo? Hai. Iya di kampus…… Sudah. Besok.”

Seseorang pasti menanyakan jadwal sidangnya.

“Iya, sebentar lagi pulang. Kamu di mana?…….” Ryan melirik arlojinya. “Jam berapa? Ya udah, sms kalo sudah selesai…….Sudah, sudah makan. Kamu?”

Pacar? Ryan punya pacar? Tenggorokanku yang tadi dingin karena es krim, kini mendadak tercekat. Cepat-cepat kuhabiskan es krim itu dan bersiap pergi. Ryan selesai dengan teleponnya.

“Aku tidak tahu kalau kamu punya pacar, Ryan,” kataku padanya.

“Pacar baru,” Ryan mengoreksi, dengan sedikit nada bangga dalam suaranya

“Siapa?”

“Oh, kamu tidak kenal. Beda kampus.”

“Cantik?”

Sial. Kenapa aku perlu tahu dia cantik atau tidak?

“Untuk seorang Ryan, dia cuaaantik.”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?” tanyaku, tak bisa menahan diri.

Ryan menatapku, ekspresinya heran bercampur malu. Dia pasti mengira aku cemburu.

“Satu hal, Nona, kamu tidak pernah tanya. Lagipula untuk apa aku cerita?”

“Tentu saja perlu. Aku bercerita soal Andra dan Ibuku. Seharusnya itu cukup untuk membuatmu sadar.”

“Sadar akan apa?”

Sadar bahwa aku sulit memiliki keberanian untuk terbuka. Seharusnya kau membalasnya dengan terbuka juga denganku, Ryan. Sadar bahwa aku sudah menganggapmu… Aku tak sanggup mengatakannya. Aku pulang.

 

 

Rabu. Sidang akhir Ryan. Agak menyesakkan juga dengan kata akhir itu. Ini mungkin jadi akhir apa pun yang terjadi antara aku dan Ryan. Kami memang hanya berteman. Namun, bila membayangkan tidak akan melihatnya lagi berkelebat di kampus membuatku hatiku muram. Ia terlalu ceria untuk hilang begitu saja.

Aku menunggu Ryan selesai sidang hari itu. Satu jam lebih berlalu, seharusnya ia sudah keluar. Semoga para penguji itu tidak mempersulitnya. Aku menantikan dengan harap-harap cemas. Kemudian pintu ruang sidang itu menjeblak terbuka. Ryan keluar dengan teriakan penuh kemenangan.

“AKU LULUUUUUUSSS!!!!!!”

Saat itu aku sudah akan menghampirinya, tapi aku kalah cepat dengan gerombolan mahasiswa lama yang juga sedari tadi menunggu Ryan keluar. Mereka mengerumuni Ryan, berebutan mengucapkan selamat padanya. Ryan memeluk mereka semua, meladeni semua gurauan dan hadiah jambak-jambakan dari teman-teman ‘seperjuangan’-nya.

Pemandangan yang mengharukan dari seorang mahasiswa nyaris abadi seperti Ryan. Aku menunggu momen yang tepat untuk menghampirinya. Lagi-lagi aku tidak mendapatkannya. Seorang gadis mungil menghampiri Ryan dengan satu buket bunga indah berwarna kuning. Ryan tersipu malu menerima buket itu. Kutebak dialah gadis “itu”.

Teman-temannya makin riuh menyorakinya.

“CIYEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!”

Aku memutar mata. Apa yang perlu disoraki? Ryan sudah jelas berhak mendapatkan bunga itu. Dia baru saja lulus dan menerima hadiah dari pacarnya. Kenapa perlu ribut? Dasar anak-anak berpikiran dangkal. Kemudian aku mengutuk pikiran kolotku barusan. Aku memang nenek tua berpikiran kuno, ratapku dalam hati.

Baiklah. Aku pun sudah tidak tahan berada di sini, terasing memandangi seseorang yang kupikir kukenal dengan baik. Aku memang tidak mengenalnya. Toh sejak awal aku hanya menganggapnya sebagai pengalih perhatian dari Andra. Dia memang berhak memilih orang lain. Kenapa semua itu mendadak menjadi penting untukku? Ryan pacaran dengan siapa pun aku tidak akan peduli.

Kerumunan Ryan dan teman-temannya bergerak ke tempat yang lebih luas. Ryan menyadari kehadiranku. Ia tampak kaget.

“Ze? Sudah lama di sini?” tanyanya dengan suara tertahan. Ia meninggalkan gerombolannya dan menghampiriku.

“Aku menikmati euforia kelulusanmu dari jauh,” jawabku.

“Kenapa sinis?”

“Siapa yang sinis?” balasku datar. Aku tidak mengerti sikapku sekarang. Aku menunjuk buket yang dipegangnya. “Bunganya cantik. Seharusnya dia tahu kalau bunga warna kuning itu untuk orang sakit, bukan untuk orang yang lagi hepi karena lulus.”

“Ze?” tegur Ryan heran.

“Sori. Seharusnya aku kasih selamat. Selamat ya, Ryaaaaan.”

“Terima kasih atas nada sarkastis itu, Ze,” Ryan mengangguk-angguk.

Entah karena apa, hatiku dipenuhi emosi yang siap meledak. Sekuat tenaga kutahan air mataku. Ryan menyadari mataku yang basah. Ia terlihat prihatin, tak tahu harus bagaimana. Aku semakin tidak memahami hatiku sendiri. Aku takut kehilangan Ryan. Dia lulus hari ini dan aku sendiri lagi.

“Kapan kita bisa bertemu lagi, Ryan?” tanyaku merendahkan suara. Begitu rendahnya hingga nyaris tidak bisa didengar. Tapi Ryan mendengarnya. Ia semakin terdiam.

Kami berpandangan selama beberapa saat. Matanya yang biasanya cerah kini berubah sendu. Aku tahu ia juga merasakan kesedihan itu. Ia memandangku, lekat, sampai ke dalam-dalam jiwaku. Perasaannya berbicara jelas sekarang. Aku menunduk.

“Ze, teman-temanku mensponsori acara kelulusanku malam ini di Milan cafe. Kuharap kamu bisa datang,” ujar Ryan kemudian. Ia kembali bergabung dengan teman-temannya. Aku memperhatikannya sekali lagi. Ia berusaha tersenyum dan tertawa dengan mereka, namun pandangannya selalu kembali padaku.

~~

 

“Kamu terlihat frustrasi,” tegur Ibuku melalui Skype malam ini.

“Ryan lulus hari ini, Bu,” ungkapku sedih.

“Tidak usah bersedih begitu, Ze. Bukan berarti kamu tidak bisa lagi ketemu dengan dia,kan?”

Benar juga. Kenapa aku belum apa-apa sudah pesimis? Tapi kalau dia harus kerja di luar kota? Semua orang memang ditakdirkan untuk pergi. Pertama Ibu, lalu Andra, kini Ryan.

“Ryan ada acara kelulusan hari ini. Aku diundang,” kataku kemudian.

“Kenapa tidak siap-siap?”

“Aku tidak… aku ragu, Bu.”

“Kenapa?”

“Ryan punya pacar.”

Ibu jelas-jelas mengerutkan keningnya padaku. “Lalu?”

“Aku merasa tidak bebas, Bu!”

“Bebas bagaimana? Kau terlalu banyak berpikir, Ze. Cepatlah pakaian dan hadiri acara temanmu itu!”

Aku patuh. Cepat-cepat kumatikan laptop, segera mencari pakaian yang pantas. Pantas bagaimana? Memangnya aku akan melakukan konfrontasi malam ini? Konfrontasi? Bahasa dari mana lagi itu? Ibu benar. Aku terlalu banyak berpikir. Ketika aku membuka lemari, kulihat sebuah benda. Salah satu benda kesayanganku seumur hidup.Tapi malam ini aku harus merelakannya.

Milan Café dari jauh tampak indah namun tersembunyi. Terlihat wajah-wajah familiar di beberapa meja. Orang-orang yang hanya kukenal, tapi tidak bisa dibilang berteman. Kulihat gadis mungil Ryan sedang menyambut tamu-tamu. Mungkin dia ketua panitianya, batinku sinis.

“Ze!” Ryan menghampiriku. Gadis mungil itu berdiri di sampingnya, menggandeng lengan Ryan dengan posesif. Kami bertatapan, saling menilai.

“Ze,kenalkan, ini Pratiwi,” Ryan mengenalkan Pratiwi dengan kaku.

Pratiwi mengulurkan tangannya padaku, tersenyum terlalu lebar. Menunjukkan kepalsuannya. “Hai, Pratiwi.”

Nama Pratiwi terlalu Indonesia dan umum di telingaku. Tak kusangka Ryan memilih pacar dengan nama pasaran seperti itu.

“Ze,” sahutku singkat.

Pratiwi berbisik sesuatu pada Ryan lalu meninggalkan kami berdua. Ryan menyilakanku duduk di sebuah meja yang sudah terisi oleh beberapa orang.

“Pratiwi?” bisikku pada Ryan, tak percaya.

Ryan berusaha menahan tawanya. “Kenapa?”

“Nama itu seperti tokoh antagonis. Kamu tahu maksudku,” dengusku.

Kali ini Ryan benar-benar tertawa. “Tak ada yang mengalahkan sifat sinis dan negatifmu ini, Ze. Sekarang, makanlah sesukamu. Aku harus menyapa tamu-tamu yang lain. Ya?”

“Oke.”

Selama beberapa saat aku menikmati kesendirianku di acara ini. Orang-orang di meja sibuk berfoto, meninggalkanku tanpa perasaan seolah aku ini pecundang tanpa teman. Tapi aku memang ke sini tanpa ditemani oleh siapa-siapa. Yang kukenal hanya Ryan, dan si Pratiwi itu.

Nampaknya Ryan tidak tega meninggalkanku sendiri lama-lama. Ia menghampiriku sambil berbisik.

“Ayo cari udara segar. Aku kepanasan.”

“Ayo.”

Kami berjalan di antara bebatuan yang dijadikan setapak di halaman belakang kafe ini.

“Jadi Pratiwi?” tanyaku memulai.

“Bisakah kamu menyebutkan namanya tanpa penekanan tertentu?” jawab Ryan geli.

“Pratiwi.”

“Oke. Dia oke, kan?” tanya Ryan.

“Terlalu mungil untukmu,” jawabku asal.

“Lalu yang cocok seperti siapa?” Ryan memancing. Lagaknya sok cool, memasukkan tangannya ke saku celana.

“Kamu keliatan keren malam ini, Ryan,” pujiku sungguh-sungguh.

Ryan menunduk malu. Aku bisa mengatakan saat ini juga bahwa Ryan adalah lelakiku. Dia milikku. Tidak seharusnya dia bersama orang lain.

Lalu aku teringat sesuatu. Kuraih sesuatu dalam tasku, lalu kuserahkan pada Ryan.

“Apa ini?” tanyanya.

“Hadiah kelulusan. Barang kesayanganku.”

Ryan merobek bungkus kadonya. Ia berseru riang. Kaos bergambar Bee Gees.

“Bee Gees?” tanya Ryan gembira.

“Ya. Kamu tau sebabnya?”

Ryan menatapku. “Agar aku tidak melupakanmu?”

Aku mengangguk ragu.

“Ze, tanpa kaos ini pun aku tidak akan melupakanmu. Kamu tahu itu, kan?”

“Hanya sebagai reminder,” senyumku.

Ryan memandangi kaos itu sambil menggeleng-geleng. Lalu ia tersenyum padaku.

“Terima kasih, Ze.”

“Sama-sama.”

Lalu kami berpandangan lagi. Udara dingin menusuk-nusuk tapi aku tenggelam dalam kehangatan mata Ryan. Dia orang yang sama selama ini, tapi kenapa kali ini rasanya sungguh berbeda? Apa yang terjadi? Kenapa semuanya datang begitu terlambat?

“Seharusnya aku tidak mengundangmu, Ze,” ucap Ryan sejurus kemudian. Ada penyesalan dalam suaranya.

“Kenapa?”

“Kamu membuatku bimbang.”

Bimbang? Apa artinya itu? Apakah aku sudah membuat Ryan terjebak dalam perasaan yang tidak diinginkan untuk datang? Aku berusaha mencari kata-kata yang tepat, tapi otakku terasa beku untuk berpikir.

“Sebenarnya,” aku akhirnya mampu berucap. “Aku juga bimbang.”

“Kamu masih berduka cita karena Andra. Aku tidak bisa terus-menerus mengganggumu,” sahut Ryan putus asa.

“Aku tidak pernah merasa terganggu.”

“Jangan ucapkan satu patah kata pun, Ze,” Ryan menegaskan. “Aku hanya ingin kau tau bahwa aku tidak akan ke mana-mana. Tidak usah bersedih.”

“Baiklah.”

“Pratiwi anak yang ceria dan optimis. Sangat berbeda dengan kau yang pemurung dan pesimis.”

“Kenapa kamu membandingkan Pratiwi dengan aku?”

Ryan terdiam. Ia tidak mendebatku lagi, lalu menghilang kembali ke dalam kafe.

 

~~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pergi (Lagi)

28 Dec

“Ze, Ibu mau ke supermarket belanja. Kamu mau ikut?” Ibu bertanya sambil mengenakan giwangnya. Giwang? Memangnya akan ketemu siapa di supermarket?

“Tidak, Bu. Ze ada ujian jam sepuluh,” tolakku halus.

“Jam berapa kamu selesai kuliah?”

“Kenapa?”

“Ibu bisa nunggu di kampus kamu, kalau kamu tidak keberatan.”

Aku mengangkat alis.

Kemudian aku mendapati diriku menjadi pusat perhatian di kampus karena baru saja turun dari sebuah Honda dua pintu keluaran terbaru. Belum habis rasa maluku, kulihat Ibu turun dari mobilnya, mengibaskan rambutnya dan mengenakan kacamata Dior-nya.

“Ibu tunggu kamu di sini saja, ya. Kamu anak pintar, pasti cepat selesai ujiannya,” Ibu mengerlingkan matanya padaku. Beberapa mahasiswa baru yang sedang berjalan di parkiran, ternganga memandangi Ibu. Ibu menikmati pandangan mereka, lalu melempar senyumnya yang paling menggoda. Bocah-bocah itu tersipu lalu terbirit-birit menyelamatkan diri.

Aku mengerjapkan mata, berusaha menahan risih.

 Di antara banyak mata yang memandang terpana, kulihat kelebat Ryan di sudut koridor, memandangku tersenyum. Aku melambai singkat padanya, lalu memutar badan ke arah yang berlawanan.

“She is stunning!” seru Ryan di belakangku.

“Aku tahu,” jawabku tanpa menoleh atau menghentikan langkah. Sudah hampir jam sepuluh, ujian akan dimulai sebentar lagi. Teori Sastra. Pak Harry. Bunuh saja aku.

Pak Harry memasuki kelas. Seperti biasa ia menyapa kami dengan ramah dan hangat. Lalu ia menyuruh kami mengeluarkan kertas selembar. Ia membacakan pertanyaan-pertanyaannya.

Terimakasih untuk keyakinan Ibu bahwa aku adalah anaknya yang pintar. Aku bisa mengerjakan soal-soal itu dengan mudah. Dalam waktu tiga puluh menit, semuanya sudah selesai kujawab. Aku meletakkan jawabanku ke meja dosen. Pak Harry memandangku, lembar jawabanku berganti-ganti. Aku tak mau tahu apa arti tatapannya.

“Cerdas seperti biasanya,” komentarnya sambil mencoret-coret lembar jawabanku. Apa yang dia lakukan?

“Langsung dinilai sekarang, Pak?” tanyaku.

“Ya,” Pak Harry mengembalikan lembar jawabanku. Aku melihat ada yang aneh. B?

“B?” tanyaku bingung.

“Ya. Itu nilaimu untuk mata kuliah semester ini,” jawab Pak Harry sambil merendahkan suaranya.

“Tapi kita bahkan belum ujian semester, Pak,” protesku.

Pak Harry mendongak, menatapku sedikit menantang. Seperti ingin menyuruhku diam, terima saja kenyataan.

Baiklah. Aku segera meninggalkan kelas dengan kesal. Dosen macam apa dia? Aku yakin benar semua jawabanku benar! Hanya karena aku tidak memenuhi keinginannya aku diberi nilai B? Aku yakin benar aku pantas mendapat nilai A! Aku memenuhi syarat, aku selalu hadir, selalu mengumupul tugas tepat waktu, menjawab soal-soal dengan benar, aku menghargai waktu. Teori Sastra bukan mata kuliah yang sulit, kenapa harus dapat B?

Sudahlah. Kupercepat langkahku menuju parkiran. Aku ingin menumpahkan kekesalanku dengan seseorang, siapa saja. Kulihat mobil Ibu masih terparkir dengan anggun di sana. Ibu sedang menikmati semangkuk bakso dalam mobilnya. Terkadang aku ingin menjadi seperti Ibu. Ia seperti tahu benar cara menikmati hidup. Setiap bagian dalam hidup ia nikmati, tanpa terkecuali. Bahkan bakso itu.

Aku masuk ke dalam mobil, langsung bersandar dan mendesah dengan napas yang berat.

“Ze, baksonya enak sekali. Kamu mau?” Ibu menawarkan.

“Baksonya Mas Sabar memang enak, Bu,” sahutku datar.

“Kamu kenapa lagi?” tanyanya, lalu menyeruput kuah baksonya dengan berisik.

“Ibu nggak malu naik mobil mahal tapi jajannya sembarangan?” tanyaku balik.

“Kenapa mesti malu? Membeli jajanan orang itu sama dengan sedekah, Ze.”

Berteori lagi. Tapi dia benar.

“Kamu masih harus belajar banyak, Ze.” Ibu selesai dengan baksonya, lalu memutar kunci, dan melajukan mobilnya.

“Kenapa Ibu harus menunggu Ze selesai kuliah?” tanyaku.

“Ibu lagi lowong. Kan jarang-jarang ini, kita jalan bareng.”

“Ibu tadi bikin malu Ze saja.”

“Kamu malu punya Ibu yang awet muda dan masih bisa menarik perhatian bahkan dari mahasiswa-mahasiswa culun?”

“Touchdown! Ibu selalu punya jawabannya.” Aku menggeleng-geleng.

“Ibu tidak tahu kamu mewarisi dari mana sifat pemurungmu itu, Ze. Ayahmu orang yang sangat ceria dan bersemangat.”

“Ini bukan warisan, tapi akibat,” sahutku. “Akibat dari trauma masa kecil atau remaja karena kesepian tanpa teman bicara. Anak pemurung karena Ibunya selalu keluar kota tanpa kabar, tanpa telepon, hanya sms banking setiap bulan dengan saldo enam digit.”

“Anak yang cerdas. Ibu yakin itu warisan ayahmu, tidak mungkin Ibu,” celetuknya asal.

“Lebih baik aku diam saja.”

“Berhenti membenci Ibu, Ze. Sekarang ceritakan kenapa tadi kau begitu kesal?”

“Dosen Teori Sastra-ku memberiku nilai B, padahal semester belum juga selesai.”

“Kenapa bisa begitu?”

Terpikir olehku untuk menceritakan kejadian dengan Pak Harry itu, tapi segera kuurungkan. Aku tidak berani menjamin reaksi kalem dari Ibu. Ia sungguh tidak bisa ditebak.

“Entahlah,” hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Tsk,” Ibu berdecak. Aku tak mau menanggapi.

Kami berhenti di lampu merah. Kulirik Ibu di sampingku. Ia memang mempesona, breathtaking. Tubuhnya masih terlihat kencang, kurus, dengan gelangnya yang glamor namun tidak berlebihan. Kapan aku bisa seperti dia?

“Tadi waktu beli bakso, Ibu ditegur sama anak muda yang agak kucel,” cerita Ibu.

“Siapa?”

“Namanya Ryan. Katanya dia temanmu. Sering jalan bareng, ya?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu cerita ke dia ya soal Ibu?”

“Memangnya dia bilang apa lagi, Bu?”

“Dia bilang, ‘Hai, Tante. Ze cerita banyak soal tante. Ze benar, ya tante memang cantik’. Gitu.”

Sok tahu benar anak itu, batinku kesal.

“Ibu senang akhirnya kamu punya teman bicara selain Andra,” kata Ibu lembut.

“Ryan orang yang berbeda, Bu. Tidak ada samanya,” tukasku jengkel.

“Siapa yang bilang harus ada samanya? Maksud Ibu adalah kamu harus membuka hati untuk orang lain. Berhentilah mengharapkan Andra.”

Aku tidak suka arah pembicaraan ini. Hanya dengan mendengar nama Andra saja membuat sekujur tubuhku tegang. Aku berkeringat dalam dinginnya AC mobil. Sekuat tenaga kulawan perasaan itu.

“Sepertinya Ryan anak yang baik. Manis, lagi,” goda Ibu.

“Kami hanya berteman, Bu.”

“Ibu cuma bilang dia anak yang manis. Bukan berarti kamu harus pacari dia, kan?” Ibu menoleh padaku, tertawa.

Aku memandangnya.

“Ayolah, Ze! Tertawalah! Sedikit tawa tidak akan membunuhmu. Malah akan membuatmu sedikit berbahagia.”

“Sedikit berbahagia?” ulangku skeptis.

“Ya.”

“Baiklah.”

Ibu memarkir mobil di sebuah pusat perbelanjaan. Kami turun, langsung berjalan masuk. Aku membuntuti Ibu dari belakang, merasa malu sendiri bila harus berjalan berdampingan dengannya. Ia terlalu glamor bila dibandingkan dengan penampilanku sekarang. Orang-orang tak akan percaya bila wanita ini ibuku.

Kami masuk ke sebuah supermarket. Ibu menarik kereta belanjaan, langsung memasukkan segala macam bumbu masak, makanan beku siap saji seperti nugget, kentang beku siap goreng, sosis, mie instant, berbagai macam camilan, minyak goreng, mentega, garam, gula pasir, tepung terigu,tepung beras, sabun cuci, dan pelembut pakaian.

Aku berhenti mendorong kereta. “Ibu mau pergi lagi?” tanyaku menuduh.

Ibu tidak menjawab. Ia sibuk menunduk memandangi berbagai jenis bumbu pasta dan spaghetti. Baiklah. Aku tidak mau peduli. Kepergian Ibu akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia pergi, aku baik-baik saja. Aku selalu bisa menjalani hari tanpanya. Kalau kemarin-kemarin bisa, hari ini pun aku pasti bisa.

Selesai berbelanja, Ibu dan aku singgah makan siang di food court. Ia memesan sop buntut, aku menunggu nasi goreng kambing. Ibu beberapa kali membalas e-mail melalui iPad-nya, tidak menggubrisku selama beberapa saat. Lalu ia menyadari kebisuanku selama satu jam terakhir, akhirnya ia bicara.

“Ibu harus berangkat ke Medan besok, kemudian Batam lusa. Lalu menyeberang ke Singapura. Ibu akan berada di sana sekitar… dua minggu.”

“Untuk apa?” tanyaku, tidak bisa menyembunyikan kekecewaanku.

“Ibu harus bertemu banyak orang di Medan. Kepala-kepala Dinas, Kepala Rumah Sakit. Sama dengan di Batam. Lalu di Singapura… Ibu sebenarnya belum ingin memberitahumu tentang ini, tapi Ibu berencana membeli apartemen di sana,” terangnya sabar.

“Apartemen? Untuk apa?”

“Investasi.”

“Aku tidak mengerti. Kenapa Ibu tidak melakukan semuanya di sini saja? Kenapa Ibu harus selalu pergi?”

“Ibu melakukan semuanya untukmu, Ze…”

“Tapi Ibu tidak melakukan SATU hal untuk Ze.”

“Bersamamu?” tanya Ibu tenang.

“Ya.”

Ibu mendesah, berusaha meredam perasaannya. Kupikir ia akan menjawabku, memberiku penjelasan yang mampu kumengerti. Tapi ia hanya diam. Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca, tapi ia masih tidak bersuara. Ia mengerjapkan matanya, lalu menyantap sop buntut-nya tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

 

 

Pukul setengah lima pagi keesokan harinya, ketika adzan subuh bahkan baru berkumandang, kudengar sayup-sayup suara sendok berdentingan dengan piring. Ibu sedang sarapan. Sebentar lagi ia akan berangkat. Seperti biasa ia merasa tidak perlu membangunkanku setiap kali ia akan berangkat. Biasanya aku cuek saja, melanjutkan tidurku. Namun kali ini aku bangun, memastikan Ibu baik-baik saja.

Ibu menyadari kehadiranku.

“Oh, Ibu tidak bermaksud membangunkanmu,” katanya menyesal.

“Pesawat Ibu jam berapa?” aku menarik kursi meja makan, duduk di sampingnya.

“Jam tujuh. Kembalilah tidur.”

“Tidak usah.”

Koper Ibu sudah siap. Ia menghabiskan serealnya, lalu memastikan barang-barangnya sudah siap semua, tidak ada yang tertinggal. Aku mengantarnya sampai ke pintu. Kulihat di balik jendela, lampu sorot mengarah ke rumah. Seseorang sudah menunggu Ibu di luar.

“Itu Pak Yono, driver dari kantor,” jelas Ibu tanpa kutanya. Aku mengangguk mengerti. Ibu menatapku selama beberapa saat.

“Kau anak yang sangat baik hati, Ze. Pertahankan itu,” ujarnya lembut, memegangi dadaku. Sentuhan ini mengalirkan getaran hangat sampai ke tulang-tulang dan persendianku.

“Ibu tidak tahu apa yang kupikirkan,” sahutku bercanda.

“Ibu tahu, tapi apalah arti pikiran bila tidak kau ucapkan. Terima kasih karena tidak pernah menghakimi Ibu dan membuat Ibu merasa buruk setiap hari, Ze. Terima kasih atas kesabaranmu,” ucap Ibu sungguh-sungguh.

“Tapi Ze tidak bisa terus-terusan sabar, Bu,” kataku, mendadak terisak. Tanpa bisa kucegah, air mataku tumpah.

Ibu menatapku sedih, seperti akan menangis juga tapi ia menahannya. Ia mendekatiku, kupikir ia akan memelukku. Tapi ia hanya menyentuh wajahku sekilas, menghapus air mataku. Tanpa berkata apa-apa lagi ia langsung keluar menuju mobil. Kuintip dia melalui jendela, berharap ia akan melambai padaku. Namun ia hanya duduk di sana, tidak menoleh padaku lagi, sampai mobil itu menghilang dari pandangan.

Air mataku terasa semakin mengambang di pelupuk mataku, sekuat tenaga kutahan. Dulu aku punya cara bila merasa sangat sendiri, merindukan kehadiran Ibu. Aku akan tidur di kamarnya, menghirup aromanya yang memenuhi ruangan itu. Aku akan melakukannya hari ini.

Aku masuk ke kamar Ibu. Sekejap hidungku mengenali harum kamar ini, sangat familiar. Sangat Ibu. Membuat rinduku padanya semakin berlipat. Memanggil kenangan-kenangan lama berputar kembali di memoriku. Kenapa aku tidak pernah bisa menunjukkan betapa aku sangat membutuhkan Ibu? Kemudian aku duduk di depan meja riasnya, memperhatikan alat-alat make-upnya, botol-botol parfum mahal.

Lalu kulihat sebotol parfum menindih secarik kertas. Aku membukanya, sebuah surat singkat dari Ibu.

 

Dear Ze,

Maafkan Ibu karena harus pergi lagi. Belakangan Ibu merasa semakin mirip dengan Andra. Pergi lagi, kembali, lalu pergi lagi. Membuatmu sedih dan terus bertanya-tanya. Tapi bedanya Ibu dengan Andra adalah, Ibu akan selalu kembali padamu. Kalau Andra…kau masih harus menyerahkannya pada takdir, kan? Atau, menunggunya sudah kau pilih sebagai takdir? Apa pun pilihanmu, jangan biarkan dirimu menderita. Sebagai pelipur hatimu, Ibu titipkan parfum ini untukmu. Untuk mengingatkanmu bahwa Ibu masih ada untukmu.”

Love,

               Ibu

 Terima kasih untuk jenis cinta yang sulit kumengerti ini, Ibu.

April Fool

20 Dec

Biarkan aku melupakan sejenak orang-orang di sekitarku. Atau, katakan saja, melupakan Ryan sejenak. Kupikir, beberapa waktu yang kuhabiskan dengan Ryan akan membantuku melupakanmu, Andra. Kupikir begitu. Kuharap begitu. Namun rupanya kau masih saja di sana, tidak pernah ada cukup waktu untuk mengusirmu dari pikiranku. Apalagi hari ini. Hari ulang tahunmu.

Ingatanku kembali pada apa yang terjadi di malam pergantian usiamu setahun silam.

 

18.00

Usai maghrib, kau datang ke rumahku.

“Hai!” sapamu bersemangat. “Besok ulang tahunku dan aku ingin melewati detik-detik menjelang jam 12 denganmu.”

“Di mana?”

“Kamu mau di mana?” kau bertanya balik. Rupanya kau belum mempunyai rencana apa-apa.

“Bagaimana kalau di sini saja?” usulku. “Kita pesan makanan sebanyak yang kita mau, lalu beli kue ulang tahun, lalu nonton dvd. Aku punya dvd Friends!”

“Itu saja?” tanyamu.

“Kurang seru, ya?”

“Mmm… tidak. Tidak apa-apa. Kita di sini saja. Jadi, McD atau KFC atau pizza?”

“PIzzaaaaaa!!!”

 

20.00

Kotak pizza dan salad bertebaran di karpet. Kau merebahkan kepalamu di sandaran kursi, kekenyangan.

“Kita belum punya kue ulang tahun untukmu, Andra,” kataku sedikit merengek.

“Lalu?”

“Aku harus membelikanmu kue.”

“Tidak usah.”

“Ayolah, Andra… Untuk apa kamu di sini kalau kita bahkan tidak punya kue?”

Kau mengulurkan tanganmu padaku, mengisyaratkan aku untuk mendekat. Aku bersandar padamu.

“Tidak usah ada kue, Ze. Apa artinya kue bila kamu sudah ada?” kau berbisik padaku.

“Tapi biasanya kurang sah merayakan ulang tahun tanpa kue,” ujarku.

“Aturan dari mana itu? Denganmu, semuanya lengkap, Ze,” kau menatapku, tersenyum lembut padaku. Matamu itu. Tidak ada kebohongan di dalamnya. Hanya ketulusan. Apa adanya. Kau merentangkan tanganmu padaku. Aku memelukmu.

 

23.30

“Setengah jam lagi, Andra,” kataku sambil melihat arloji. Aku dan kau sedang merebahkan diri di atap rumah, menanti detik-detik pergantian usiamu. Malam itu hawa begitu panas, meski sudah larut. Musim hujan sudah hampir berakhir, belum sempat dinikmati banyak orang. Ulang tahunmu jatuh di hari pertama bulan April, 1 April. April Fool, kata orang-orang. Tidak perlu April Fool untukku merasa bodoh. I’m fooled already.

 

23.45

“Kamu punya resolusi?” tanyaku dengan suara rendah.

“Masih sama dengan yang kemarin-kemarin. Semoga aku lulus di program beasiswa Amerika itu,” jawabmu mantap.

Malam itu sudah seharusnya kutahu bahwa kau akan meninggalkanku. Kau terus bermimpi ke sana, tak sedetik, tak seorang pun yang bisa mencegahmu untuk menghentikan cita-citamu. Namun aku begitu terlena akan kebersamaan kita. Jari-jarimu menaut jari-jariku, memandangi langit yang sedang dihias dengan bulan sabit dan awan-awan tipis menutupi bintang-bintang. Indah sekali. Tak ada waktu untuk merasa resah.

 

23.55

Lima menit lagi. Kau menegakkan badan, memutar badanmu ke arahku.

“Count down?” tanyamu.

“Terserah kamu saja, Andra.”

Kau melihat arlojimu, memastikan tanggal 1 April tinggal beberapa detik.

“Make a wish?” tanyaku.

“Yap. Kita harus ke suatu tempat, Ze,” sahutmu sedikit ragu.

“Ke mana?”

“Ke tempat di mana hanya ada kita berdua saja.”

Aku terpaku, berusaha memikirkan di mana tempat yang memungkinkan aku dan Andra hanya berdua saja. Di mana? Aku tidak bisa berpikir.

 

00.00

“Selamat ulang tahun, Andra.”

Kau mendekatiku, mencium keningku, lalu memelukku sangat erat. “Kita seharusnya bisa lebih dari ini, Ze.”

Lebih?

 

Stop! Aku menghentikan ingatan itu. 1 April hari ini. Ulang tahunmu. Di mana kau, Andra? Aku ingin menghabiskan malam denganmu, sama seperti tahun lalu. Aku begitu frustrasi hari ini, menyambut ulang tahunmu, sendirian, mengurung diri di kamar. Tak ada tanda-tanda keberadaanmu. Ryan beberapa kali menelepon, kuabaikan. Maafkan aku kali ini, Ryan, bisikku dalam hati.

Terdengar beberapa ketukan di luar kamar. Aku begitu lemas untuk menjawab.

“Ze?” suara yang sangat familiar, yang sudah lama tidak kudengar.

Aku tersentak. Itu suara ibuku! Aku segera bangkit, membuka pintu. Ibu berdiri di depanku, dengan wajah cantiknya yang tidak pernah menua, setelan mahal dari atas hingga ke bawah, wangi parfum semerbak.

“Anak Ibu…” senyumnya memandangiku.

“Ibu kapan datang?” tanyaku sedikit bersemangat. Setidaknya di hari yang muram ini Ibu bisa menemaniku dengan tawa cerianya yang kuyakin bakal memenuhi seisi rumah.

“Ibu akan berada di sini selama beberapa minggu,” Ibu mengabaikan pertanyaanku. “Sudah makan?”

Aku menggeleng.

“Bersiap-siaplah. Kita makan di luar. Kamu suka sushi, kan?”

“Ibu, aku tidak pernah suka sushi. Baunya amis, mentah,” keluhku meringis. Miris juga mengingat kenyataan bahwa ibuku sama sekali tidak mengenalku. Aku tidak yakin bagaimana perasaanku pada dia, tapi saat ini aku membutuhkannya.

Selesai berpakaian, Ibu membawaku ke sebuah restoran Italia favoritnya. Kami memesan pizza dan fettucini.

“Kamu masih murung seperti biasanya, Ze. Kamu baik-baik saja, kan?” Ibu memulai pembicaraan. Seperti biasa ia akan membombardirku dengan pertanyaan, bertingkah seolah-olah peduli benar denganku. Waktunya yang sangat sedikit untukku membuatku tidak mempercayainya.

“Aku baik-baik saja, Bu,” sahutku pelan.

Ibu sibuk membaca menu minuman, bergumam beberapa saat. Aku memandangnya. Pertanyaan basa-basi saja rupanya. Aku berusaha tidak memasukkannya ke dalam hati. Ketidakberadaan Andra di hari ulang tahunnya sudah cukup membuatku menderita.

“Ah, Ibu baru ingat. Ada parfum yang wanginya seksi sekali, kubelikan khusus untukmu! Minggu lalu Ibu dari Perancis! Romantique!” Ibu berseru riang.

Aku tersenyum garing. “Terima kasih.”

“Sama-sama. Suatu hari kita harus ke sana! Ibu harus membawamu ke sana.”

“Yap.”

Pesanan kami datang, setelah beberapa waktu kami hanya berdiam diri dengan canggung. Aku segera menyantap fettucini-ku. Kurasakan tatapan Ibu mengarah padaku. Ia hendak mengatakan sesuatu, aku tahu.

“Apa, Bu?” tanyaku.

Ibu terlihat ragu sejenak. Ia menarik napas, kemudia berkata, “Ibu ketemu dengan Andra.”

Aku menjatuhkan garpuku. Kupandangi dia, dengan terpana.

“Itu sebabnya Ibu kembali ke sini. Andra akan pergi dalam waktu yang lama dan Ibu harus menemanimu,” lanjutnya tegang.

“Kapan? Di mana? Andra bilang apa, Bu? Kenapa Ibu tidak pernah menelepon? Kenapa Ibu tidak pernah bilang?” serangku.

Ibu berusaha menenangkan diri. Ia memberiku isyarat untuk diam. Aku diam, bersiap untuk mendengarkan apa pun ini.

“Di… suatu tempat. Andra tahu keadaanmu. Kamu harus tegar.”

“Aku muak dengan omong kosong Ibu dan Andra!” aku membanting garpuku.

“Ze…”

“Aku tidak mau dengar. Untuk apa Ibu di sini? Karena Andra yang minta? Memangnya dia pikir aku tidak bisa menjaga diriku sendiri? Andra seharusnya tahu kalau Ibu tidak pernah peduli denganku! Untuk apa Andra mempercayai Ibu? Dan untuk apa pula Ibu percaya dengan semua perkataan Andra?”

“Ze…”

Tenggorokanku sakit menahan air mata. Aku capek dengan semua ini. Apa hubungan Ibuku dengan Andra? Kenapa wanita itu harus berada di tengah-tengah semua ini? Ia tidak tahu apa yang terjadi denganku, bertahun-tahun mengabaikanku. Sekarang ia muncul begitu saja, seperti pahlawan kesiangan. Bersikap ingin melindungiku. Dari apa? Patah hati? Untuk apa? Ia tahu aku sudah terlalu rapuh untuk dilindungi. Aku tidak butuh bantuan siapa-siapa.

“Kamu mau Ibu pergi?” tanya Ibu.

Ini pertanyaan jebakan. Curang sekali ibuku ini. Ia bertanya seperti itu untuk memanipulasi emosiku, yang dilihatnya sangat membutuhkan teman bicara. Ia akan merasa menang bila aku berkata ‘tidak’. Aku diam. Kubiarkan egonya menang.

Ibu menyodorkan secarik kertas padaku. Ia menggenggam tanganku sebentar, lalu bersiap meninggalkanku. Tipikal. Selalu pergi di saat aku dilanda krisis. Ibu macam apa?

Ia menunduk, berbisik padaku. “Jangan berpikir yang tidak-tidak, Putriku sayang. Ibu tahu kau butuh waktu berpikir. Ibu hanya akan menunggumu di luar.”

Kupandangi Ibu yang sedang berjalan keluar. Di usianya yang sekarang, pesonanya masih bisa membuat beberapa pria di restoran ini menoleh memperhatikannya.

Lalu kertas ini. Apa lagi ini, Andra?

 

April Fool, Ze! Kau tidak percaya dengan hal-hal konyol seperti ini, kan? Aku juga tidak. Bagaimana dengan ingatanmu tentang setahun lalu? Aku yakin masih melekat jelas dalam memorimu. Sama, aku juga. Tapi aku lebih parah. Aku merasa lebih bodoh dari sebelum-sebelumnya.

Jangan cemberut begitu, Ze. Aku tidak sengaja bertemu dengan Ibumu. Jangan marah. Kami hanya berbincang-bincang ringan, kebanyakan tentangmu. Ia sangat khawatir dengan keadaanmu, terlebih setelah mengetahui aku sudah semakin jauh dan tak terjangkau olehmu. Ia yang berinisiatif sendiri untuk berada di sana, menemanimu. Maafkanlah dia, Ze.

Dan ngomong-ngomong, namanya juga April Fool. Tidak semua yang kau dengar hari ini adalah kenyataan, kan? Haha! I got you!

Baik-baik di sana, Ze.

Love you as always,

Andra

Karena Kau Bukan Dia.

30 Nov

Malam itu aku setuju menemui Ryan di sebuah mal besar yang terletak di pusat kota. Ia hendak menunjukkan ‘kehidupan’ yang terbaca dengan jelas hanya dengan berkunjung ke supermarketnya. Kulihat ia sudah berdiri menungguku di depan supermarket, berpakaian agak rapi kali ini. Kaos putihnya menyembul di balik sweter abu-abunya. Aku menghampirinya.

“Sudah lama?” tanyaku.

“Tidak juga. Aku baru sampai.” Ryan berdiri, posisinya agak tidak stabil. Canggung mungkin. Ia menutupinya dengan segera berjalan memasuki supermarket. Aku mengikutinya.

“Nah, kita mulai dari mana?” aku bertanya lagi.

Ryan mengambil kereta belanjaan, mendorongnya padaku. “Kupikir kamu hanya mau melihat-lihat,” tukasku.

“Akan terlihat aneh kalau kita di sini hanya untuk melihat-lihat. Kita juga harus berpura-pura sedang belanja,” jawab Ryan, mengamati sekitar. Wajahnya serius seperti Jason Bourne yang sedang mengintai musuh-musuh yang membuntutinya.

“Kita mulai dari pengunjung supermarket. Ini tidak susah, karena lagi sepi.”

“Oke,” aku mengamati orang-orang yang sedang memilih barang.

“Kita mulai dari ibu-ibu berpakaian dinas,” Ryan berbisik padaku, menunjuk seorang wanita setengah baya, cukup gemuk, berjilbab, sedang berdiri di aisle bumbu dapur.

“Apa yang bisa kamu tangkap dari ibu itu?” tanya Ryan. Tubuhnya begitu dekat denganku, membuat lengan kami bersentuhan. Aku berusaha berpikir.

“Emmm…” aku memperhatikan sebentar. “Aku tidak bisa menebak. Aku biasanya belanja untuk diriku sendiri, tidak melihat sekitarku.”

“Ibu itu berdiri cukup lama di sana karena beberapa faktor,” jelas Ryan padaku. “Pertama, ia berpikir apakah di rumahnya sudah kehabisan garam atau merica atau ketumbar. Kedua, ia mencari bumbu masak yang lain, tepung-tepung atau bumbu instan, mengecek apakah ia membutuhkannya atau tidak. Ketiga, ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu berseragam dinas. Mereka sibuk membandingkan merek bumbu tertentu, memeriksa setiap detail harga, dan kalau bisa atau cocok, mereka memilih yang paling murah. Atau harga yang standar tapi dengan merek terpercaya.”

Aku terpana memandangi Ryan. “Kamu memperhatikan semua itu?” tanyaku takjub.

“Yap.”

“Hebat sekali!”

“Itu hanya pengamatanku saja, Ze. Tidak usah terpesona begitu,” Ryan menyeringai.

“Aku memang terpana, dengan cara yang berbeda. Jangan salah mengartikannya, Ryan.”

“Ini otakku, terserah aku mau mengartikannya bagaimana. Nah, kita lanjut ke aisle berikutnya!” Ryan menyambar beberapa minuman ringan dan biskuit. Kami sampai di bagian makanan beku dan sayuran segar.

“Di sini, banyak ibu yang mampir karena mereka tidak sempat membeli sayur di pagi hari, atau malas ke pasar,” Ryan memberitahu.

“Kehadiran supermarket yang serba ada membuat keberadaan pasar tradisional makin tersisih,” tukasku.

“Tidak juga. Ada beberapa hal yang membuat pasar tradisional tetap bertahan.”

“Bisa tawar-menawar?”

“Tentu saja. Dan, mungkin kamu tidak tahu ini. Belanja di pasar tradisional punya nilai dan rasanya sendiri.

“Kamu mau pergi ke pasar tradisional?” tanyaku girang.

“Boleh. Setelah ini. Sekarang, perhatikan bagian makanan beku. Nugget, kentang beku, sosis, suki. Perhatikan ibu muda itu.”

Seorang ibu muda berdiri menaruh beberapa kantong nugget dan sosis.

“Ya?”

“Kutebak ia baru dalam hal belanja keperluan dapur. Belum tahu mana kebutuhan utama dan bukan utama.”
“Kenapa begitu?”

“Nugget dan sosis menurutku tidak begitu diperlukan di dapur. Lagipula harganya mahal.” jawab Ryan.

“Bisa jadi dia ibu muda yang kaya,” kataku tak setuju.

“Ya, dia tidak melihat harga. Orang kaya,” komentar Ryan sinis.

“Kamu tidak bisa men-judge seseorang dari apa yang mereka beli, Ryan.”

“Begitu? Sama seperti tidak bisa menilai buku dari cover-nya?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan orang yang susah ditebak isi hatinya?” tanya Ryan. Ekspresinya berubah, sepertinya mood-nya hilang. Ia memasang tampang masam, wajah yang baru kulihat.

“Kamu tahu banyak soal barang-barang di supermarket. Membuatmu terlihat feminim,” kataku, mengabaikan pertanyaannya.

“Karena aku melihat, bukan sekedar melihat.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Ryan menarik napas panjang, mengembuskannya keras-keras. Ia terlihat lelah.

“Ayo kita pulang saja.” Ryan berjalan gontai keluar dari supermarket. Kami menembus keramaian mal yang tidak kusuka.

“Sudah selesai? Bagaimana dengan pasar tradisionalnya?”

“Lain kali saja.”

“Kamu menyebalkan, Ryan,” tudingku pada bahu Ryan. Ia berbalik.

“Menyebalkan?” ulangnya dengan suara serak.

“Aku tidak tahu ternyata kamu se-moody ini. Nggak asik!”

“Lalu menurutmu apa yang asik?”

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya terus berjalan. Ryan mengikutiku, langkahnya cepat di belakangku. “Baguslah kalau kamu menganggapku menyebalkan. Setidaknya pikiranmu dari Andra sudah teralihkan,” bisiknya keras di telingaku.

“Hentikan pembicaraan tanpa arah ini, Ryan,” ucapku muak. Ryan yang beberapa waktu ini kulihat sangat percaya diri berubah menjadi sosok yang cengeng.

“Aku tidak seperti yang kamu pikir, Ze. Berhenti berpikiran rumit,” ujar Ryan, menatapku lurus. Kuabaikan tatapannya, terus berjalan tanpa memedulikannya lagi. Selama beberapa saat kupikir aku sudah sendiri, rupanya Ryan masih ada di belakangku. Mengikutiku tanpa bersuara.

Apa tujuan hubunganku dengan si Ryan ini? pikirku kesal. Apa aku dan dia memang diharuskan menghabiskan waktu sebentar? Untuk melupakan Andra? Mengingat nama itu, dadaku mendadak perih. Ditusuk perasaan yang aneh. Rindu yang mengendap menjadi luka. Bagaimana rasanya? Ya, seperti ini. Membunuhmu perlahan-lahan.

Kulihat di samping kiriku, Ryan mengimbangi langkahku. Ia menyodorkanku es krim cone rasa cokelat. Kupandangi dia.

“Maaf…” ucapnya sungguh-sungguh.

Aku menerima cone cokelat itu, menjilatnya perlahan-lahan. Masih belum bicara.

“Kamu pasti ingin tahu bagaimana aku dan Andra bisa saling kenal?” tanya Ryan.

“Bagaimana?”

“Kebetulan saja, ketemu di kantin. Waktu itu kamu sedang sakit, katanya.”

“Kamu tanya dia?”

“Iya, aku tanya kenapa dia sendiri. Dan katanya kamu sedang sakit. Dan aku masih ingat ekspresinya waktu itu.”

“Bagaimana?”

“Murung. Sangat murung.”

“Kamu sok tahu,” ledekku.

“Ayolah, Ze. Semua orang di fakultas kita tahu kamu dan Andra itu sepasang merpati yang tidak terpisahkan. Orang-orang bahkan tidak peduli kalau kalian pacaran atau tidak.”

“Menurutmu?”

“Aku tidak peduli. Aku hanya merasa kasihan padamu waktu Andra berangkat.”

“Cukup aku yang mengasihani diriku sendiri, Ryan. Kau tidak perlu.”

“Kamudian aku dan Andra sering bertegur sapa. Ya, walaupun cuma sekadar basa-basi. Dan ketika kamu sudah sembuh, Andra kelihatan bersemangat lagi.”

Aku tersenyum mengenang momen itu. Aku demam tinggi dan ibuku sedang tidak ada (lagi dan lagi). Mbak Sari sudah memberiku obat penurun panas, namun demamku belum juga turun. Andra datang, masuk ke kamarku membawa segala macam obat, bubur, dan anehnya, Coca Cola. Ia memberiku obat yang menurutnya penurun panas paling mujarab sejagad raya. Aku pun tertidur selama beberapa jam. Ketika aku bangun, Andra masih menungguku di kamar sambil berkutat dengan laptopnya. Ia mengerjakan tugasku. Momen yang tak ternilai harganya. Tak tergantikan.

“Ryan…” aku menghentikan langkah, berbalik menghadap Ryan.

“Ya?”

“Kau tidak perlu melakukan ini semua. Membantuku mengalihkan pikiranku dari Andra.”

“Kenapa?”

“Karena kau bukan dia. Dan dia bukan kau.”

“Apa aku harus tersipu?” tanya Ryan, sedikit tersipu.

“Tidak, Ryan. Itu bukan pujian.”