A N D R A PART 2 ( AKU YANG BRENGSEK )

5 Mar

Hari ini dimulai dengan acara penyambutan para mahasiswa dan sukarelawan di Balai Desa. Setelah itu kami memulai tugas yang sesungguhnya, yakni mengajar. Karena belum terlalu berpengalaman, aku hanya berdiri di sudut kelas, merekam aktivitas belajar mengajar yang secara bergantian dilakukan oleh Andra dan Anne. Mereka menggunakan gambar dan memperkenalkan nama-nama hewan dalam bahasa Inggris kepada anak-anak kelas empat SD. Andra menjelaskan dalam bahasa Indonesia, Anne membantu cara mengucapkan dengan benar. Mereka terlihat sangat kompak. Para siswa terlihat sangat antusias. Perhatian mereka terpusat pada Anne, si bule cantik berambut merah dan bermata biru. Entah dari mana perpaduan itu, yang jelas di mata anak-anak desa ini, Anne seperti boneka Barbie hidup.

Seusai sekolah, aku melanjutkan tugasku dengan mengawasi para mahasiswa di posko mereka. Banyak dari mereka yang mengeluh susahnya sinyal handphone dan internet. Sebagian sibuk foto-foto, sebagian sibuk mengisi waktu dengan berdiskusi dengan koordinator mereka, membahas kegiatan selanjutnya. Selamat datang bosan.

Malam hari adalah waktu istirahat dan bersenang-senang. Karena aku, Andra, Anne, dan Pak Harry adalah pihak kampus, kami diberi keistimewaan menginap di rumah Kepala Desa. Aku sekamar dengan Anne. Tempat tidurnya luas, terdapat atas empat tiang dengan kelambu yang siap digelar di malam hari. Hari ini aku terlalu lelah, tak sempat ngobrol basa-basi dengan Anne atau Andra, bahkan dengan Pak Harry. Begitu selesai berganti pakaian, aku langsung tertidur.

Paginya aku terbangun dengan perasaan lebih segar. Anne juga sudah bangun. Ia malah sudah rapi dan harum.

Morning, sleepy head,” sapa Anne ramah.

Morning. Semalam aku benar-benar capek, Anne,” sahutku menggeleng-geleng.

Yeah. Aku bisa melihatnya. Tidakkah kau dengar semalam kami ribut bermain kartu?”

“Tidak. Aku tidak dengar apa-apa.”

“Seru sekali. Aku hendak membangunkanmu tapi Andra melarangku. Katanya ini pengalaman pertamamu berpetualang, jadi wajar kalau kau capek sekali. Benarkah?”

Aku tertawa kecil. “Yeah. First time. Aku anak kota, tidak pernah ke tempat seperti ini.”

I see.”

Kemudian aku mandi dan bersiap ke sekolah bersama tim yang berbeda. Ibu Kepala Desa sudah menyiapkan kami sarapan berupa nasi panas yang mengebul, berbagai jenis ikan bakar, terong tumis, dan perkedel jagung.

“Pagiii…” aku memberi salam pada semua yang ada di meja makan, Pak Kepala Desa, Pak Harry, Andra, dan Anne.

“Silakan, silakan…” Ibu Kepala Desa menyilakan dengan ramah.

“Maaf ya, Bu. Saya tidak ikut bantu-bantu. Saya benar-benar capek dan telat bangun,” kataku tak enak pada Ibu Kepala Desa, Bu Tini.

“Ah, tidak apa-apa. Toh Andra juga sudah bantu Ibu goreng ikan. Katanya Ze tidak suka ikan bakar, ya?”

Aku menoleh pada Andra. Ia tidak berekasi apa-apa, hanya menatapku.

“Terima kasih, Bu Tini,” Lalu kami semua mulai makan.

Hari ketiga berada di desa Roso. Para mahasiswa mulai mengerjakan kewajiban mereka, pengabdian kepada masyarakat dengan berbagai bentuk. Kerja bakti, membersihkan selokan, parit, mengecat kantor kecamatan, bahkan membantu beberapa petani memetik hasil kebun mereka. Imbalannya, para mahasiswa membawa pulang banyak pisang dan ubi kayu. Pisang kepok dan ubi kayu inilah diolah oleh mereka di sore atau malam hari sebagai bentuk acara “kumpul-kumpul”.

Sementara Andra, Anne, Pak Harry, aku dan para koordinator lapangan setiap malam berkumpul di pos siskamling yang khusus mahasiswa renovasi sebagai tempat musyawarah. Bagiku sesi inilah yang terberat. Karena aku harus berhadapan dengan Andra, tak ada kesempatan untuk menghindar. Sikapku yang diam tanpa ide atau inisiatif memaksa Pak Harry menunjukku sebagai notulen rapat. Mungkin ia mulai meragukan kemampuanku.

“Mungkin kita tidak harus melulu mengajar Bahasa Inggris,” usulku, membuat semua kepala menoleh padaku.

“Bagaimana?” tanya Pak Harry.

“Kita bisa story telling,” jelasku. “Di pelajaran Bahasa Indonesia, anak-anak jurusan Bahasa Indonesia pasti punya ide. Malin Kundang atau Si Pitung?”

“Betul, betul,” anak-anak yang lain mulai mencatat dan berbisik soal ide-ide.

“Atau Si Itik Buruk Rupa karya Hans Christian Andersen,” Andra bersuara.

“Kamu punya bukunya?” tantangku.

“Ayolah, Ze,” balas Andra. “Siapa yang tidak tahu cerita Itik Buruk Rupa? Malin Kundang atau Si Pitung sudah banyak di buku-buku pelajaran mereka,kan?”

“Kita butuh cerita yang menginspirasi,” aku menegaskan.

“Itik Buruk Rupa sangat menginsipirasi,” Andra mencoba meyakinkan.

“Setuju, setuju.” Yang lain berseru dengan semangat.

“Bukunya?” seseorang bertanya.

“Kurasa Ze sudah hapal ceritanya dan bisa mengisahkannya,” Andra berkata padaku, dengan penekanan tertentu.

“Ya, Ze,” Pak Harry setuju. “Kau bisa, kan?”

Aku menatap Andra dan Pak Harry bergantian. “Baiklah.”

“Oke kalau begitu. Meeting adjourned. Selamat malam.”

Kami membubarkan diri. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Terlalu dini untuk tidur, tapi desa ini sudah sangat sepi. Jalanan setapak dan berbatu-batu ini sudah tidak dilalui kendaraan. Cahaya dari rumah-rumah penduduk yang menuntun kami kembali ke rumah Pak Kepala Desa.

Pak Harry dan Anne berjalan berdampingan. Jarak mereka sedikit jauh di depanku. Sayup-sayup kudengar mereka membicarakan tentang Sydney dan Opera House. Australia. Finding Nemo.

“Ze,” Andra memanggil dari belakang.

“Ya?” jawabku tanpa menoleh.

“Besok kita akan jalan dua kilo atau lebih menuju sekolah. Kamu bisa?”

“Bisa.”

Andra mempercepat langkahnya. Kupikir ia mau berjalan beriringan denganku, ternyata ia menyusul Anne.

“Glad to have you back,” katanya pada Anne.

“Anytime,” sahut Anne tersenyum.

“Kau ingat kopi pekat andalanmu itu?”

“Ya. Kau mau aku buatkan?”

“Yes, please.”

“Dengan senang hati.”

Berat. Melihat Andra saja sudah cukup berat. Lalu menyaksikan keakrabannya dengan Anne, hari-hariku akan semakin berat.

~~~

Perjalanan menuju SD Negeri 47 cukup berat. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul  enam kami berangkat. Kami harus melalui jalanan berbatu, sempit, melewati hutan kecil yang banyak duri dan dahan-dahan patah. Sesekali kami bertemu dengan segerombol anak yang berangkat sekolah bersama-sama. Meski dengan pakaian warna putih kumal dan rok atau celana merah yang sudah memudar, semangat mereka mencerahkan wajah-wajah polos penuh keyakinan itu.

Kami sampai di sekolah. Aku mengatur napas, mengelap wajahku yang bersimbah keringat. Jam menunjukkan pukul tujuh. Lima belas menit lagi aku memulai tugasku. Si Itik Buruk Rupa.

Andra berdiri di dekatku. “Kamu keringetan,” katanya.

“Kamu tidak,” balasku sambil kipas-kipas menggunakan map plastik tipis.

“Perjalananku pernah lebih parah dari ini,” Andra memberitahu. “Kami bahkan pernah melewati rawa yang penuh buaya, hutan gelap, bahkan tanah yang sangat gersang.”

“Seperti di Dufan?” tanyaku. “Atau ride bertema Indiana Jones di Disneyland?”

Andra tertawa. Sejenak ia mengira aku bercanda, tapi karena tak ada senyuman di wajahku, tawanya menghilang. Wajahnya berubah tegang.

Bel tanda masuk berdentang. Anak-anak berbaris rapi, lalu masuk kelas dengan tertib. Tim kami diperkenalkan oleh Bu Rohana, guru Bahasa Indonesia. Aku mulai bercerita tentang Si Itik Buruk Rupa. Si Itik yang dilahirkan dengan bulu yang jelek, jauh berbeda dengan saudara-saudaranya. Karena kekurangannya itu ia sering diejek oleh sesama itik. Si itik selalu diperlakukan kejam oleh para itik, ayam, bahkan seekor anjing yang kelaparan pun tidak mau menerkamnya karena takut akan tampang itik yang begitu buruk. Karena sedih, itik selalu menyendiri di pinggir danau, menyaksikan angsa-angsa cantik dan anggun yang berenang di sana. Ia iri pada angsa-angsa itu, ingin pula menjadi angsa yang cantik. Musim panas dan musim dingin dilaluinya dengan kesendirian. Musim tiba, ketika Si Itik menyuruh angsa-angsa membunuhnya.

“Bunuh saja aku! Aku tak berguna! Aku sangat jelek!” kisahku, menirukan suara itik yang merintih lirih.

Anak-anak menyimakku dengan semangat. Aku sampai pada cerita ketika angsa-angsa itu berkata bahwa si Itik Buruk Rupa sudah menjelma menjadi angsa yang cantik berbulu indah. Selesai bercerita, anak-anak berepuk tangan gembira.

“Lagi! Lagi!”

“Terima kasih, Kak Ze,” Bu Rohana berucap khidmat, diulang oleh anak-anak.

“Terima kasih Kak Zeeeeee….”

“Sama-samaaaa…” jawabku terharu. “Lain kali kita ketemu dengan cerita yang berbeda, ya.”

Karena sudah menjadi pendengar yang manis dan antusias, aku membagikan cokelat Beng Beng ke setiap anak. Cokelat-cokelat yang sengaja kubeli di pasar beberapa hari yang lalu.

Tugas mengajar kami selesai hari ini. Ketika hendak kembali, rombongan kami berpapasan dengan mobil pick-up pengangkut sayur yang kembali dari pasar. Pak Harry bernegosiasi dengan supirnya, lalu kami semua naik di atas pick-up. Rasanya menyenangkan sekali.

“Kelas yang menyenangkan, ya,” kata Pak Harry pada kami semua. Ia akan berbahasa Inggris bila tinggal kami berempat. Anne yang kepanasan bersembunyi di balik tudungnya.  Andra bersedekap, raut wajahnya susah ditebak. Mata sayunya tampak memandang lurus ke depan. Sejak tadi ia diam saja.

“Oh iya, kalau Bapak pulang besok tidak apa-apa, ya?” tanya Pak Harry padaku dan Andra.

“Ada urusan ya, Pak?” tanya Andra.

“Tidak. Kupikir kau, Ze, dan Anne bisa meng-handle ini semua.”

Sure,” Anne setuju. “All set, all clear.”

“Andra, Ze?”

Andra menatapku tiga detik. Ia seperti dihadapkan pada keputusan yang berat.

“Aman,” jawabnya enggan.

“Aman,” jawabku.

Mobil berhenti di depan pasar. Kami semua turun, lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Tini. Siang yang terik membuat kami lelah dan lapar.

“Mungkin malam ini aku nginap sama Purna saja,” Andra memberitahu dalam bahasa Inggris. Mungkin pada Anne atau Pak Harry, tapi jelas bukan padaku.

“Kenapa?” tanya Anne.

Andra mengangkat bahu. “Mau main kartu.”

Can I come?”

“Oh yeah. Kau pasti kalah.”

We’ll see!”

“Ze?” Anne bertanya padaku. “Kau tidak ikut?”

“Sorry, I don’t play cards. Tidak mengerti.”

“Ah, sayang sekali.”

“Tapi aku bisa datang membuatkan kalian camilan dan kopi?” aku menawarkan diri.

“That would be perfect!”

Malamnya, dibantu Bu Tini dan beberapa mahasiswi, aku membuat pisang dan ubi goreng untuk teman-teman yang sedang asyik bermain kartu. Mereka yang kalah wajahnya dihias oleh bedak dan lipstick. Dan wajah yang sudah banyak bedaknya itu Andra. Yang semangat menggosokkan bedak Anne. Mereka tertawa-tawa gembira. Pemandangan itu mengundang decak iri beberapa mahasiswi dan kaos tak berlengan Anne menjadi pemandangan segar di mata mahasiswa-mahasiswa culun. Mereka jelas makin semangat main kartu. Mungkin sengaja kalah supaya mukanya bisa dipegang-pegang sama Anne.

Andra? Lucu juga sebenarnya mengingat bahwa aku masih bisa tenang menghadapi Andra. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kuutarakan padanya, tapi lidahku terlalu sering kelu, atau kebanyakan sinis yang terlontar. Beberapa kali Andra bergelagat seperti ingin mengajakku bicara, tapi aku selalu menghindar. Mungkin aku marah padanya. Aku kecewa. Ia tidak pernah memberiku kabar, tapi mungkin ia punya alasan. Alasan apa? Selain mungkin sudah tidak menganggapku penting. Sampai sekarang aku masih bingung. Andra tidak melakukan apa-apa, ia hanya pergi. Tapi itu menyakitiku. Ketiadaannya adalah lukaku. Sikap diamnya menyiksaku.

Jam menunjukkan pukul sepuluh. Anak-anak masih bermain kartu. Wajah Andra sudah penuh bedak. Sementara aku sudah mengantuk dan harus kembali ke rumah Bu Tini. Jarak rumah Purna dan Bu Tini tidak terlalu jauh, hanya beberapa rumah. Tapi jalanan sudah sangat gelap dan sepi. Mengerikan juga kalau aku harus berjalan sendiri.

“Aku temani kamu pulang?” tanya Andra. Rupanya ia sudah membubarkan diri.

“Mukamu penuh bedak,” kataku menunjuk wajahnya.

Andra mengelap wajahnya asal. “Mudah-mudahan aku masih keliatan ganteng,”

Aku tertawa kecil. Andra tersenyum, lalu mulai berjalan menemaniku. Sepanjang jalan yang senyap rasanya canggung, tapi mulai mencair sedikit. Ini pertama kalinya sejak kami tiba di desa ini aku dan Andra benar-benar berdua. Saja.

“Ibumu gimana?” tanya Andra memulai.

Oh, kau tahu benar, Andra. Melontarkan pertanyaan yang membuatku senang.

“Baik,” jawabku singkat.

“Masih sering bepergian?”

“Sudah tidak. Sekarang dia lebih banyak di rumah.”

“Hm. Jadi siapa Ryan?” tanya Andra tanpa disangka-sangka.

“Ryan temanku,” jawabku tinggi.

“Teman?”

“Kamu tahu dari mana tentang Ryan?” desakku.

“Tau saja,” jawab Andra penuh rahasia.

“Kami berteman. Dekat, tapi tidak sama antara kamu dan Anne.”

“Anne?” ulang Andra. “Kenapa Anne?”

“Please, Andra,” ujarku sinis.

“Kamu pikir ada apa-apa antara aku dan Anne?”

“Kamu yang bilang begitu. Aku tidak bilang apa-apa,” kelitku.

Andra tertawa sambil menggeleng tak percaya. Jadi mungkin tidak ada apa-apa. Aku tidak mendebatnya lagi. Kami sampai di rumah Bu Tini. Andra mengantarku sampai ke pintu.

“Ze, aku dan Anne hanya berteman,” Ia menjelaskan di balik bahuku. “Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Tapi kamu tahu, kan. Begitulah teman.”

“Terima kasih atas informasimu, Andra,” sahutku. “Tapi aku tidak bertanya. Ada apa-apa pun aku tidak peduli.”

“Begitu?” tanya Andra. Nadanya seperti terlalu yakin akan pikirannya. Aku memandangnya tak suka. Sejak kapan Andra berubah jadi songong?

“Kamu punya Paracetamol atau semacamnya?” tanyanya membingungkan.

“Kamu kenapa?”

“Kepalaku sakit sekali. Sudah lama aku trouble sleeping. Zona waktu.”

Berbulan-bulan setelah kepergian Andra, aku pun kesulitan tidur. Aku bisa terjaga sampai pagi, berteman dengan sepi dan suara-suara ganjil di tengah malam. Apa benar hanya zona waktu yang menyebabkan Andra susah tidur?

Aku mengendap masuk, pelan-pelan masuk ke kamar, mencarikan obat untuk Andra di ranselku. Dapat. Kemudian aku keluar. Andra menunggu di teras.

“Kamu seharusnya ikut hipnoterapi atau semacamnya,” kataku, duduk di samping Andra. “Atau tenggelamkan dirimu dengan kesibukan sampai kamu capek.”

“Sudah. Aku pernah ikut terapi sekali, terapisnya cantik sekali. Dia terus-terusan berkata aku hanya perlu ‘let go’. Apa pula maksudnya itu?” Andra mendengus.

“Sekarang kamu sudah di Indonesia, Andra. Kamu pasti bisa tidur.”

Andra menelengkan kepalanya. “Kupikir justru di situlah letak masalahnya, Ze,” ujarnya. “Berat sekali.”

“Apanya?”

“Tidak tahu,” Andra mendesah. “Kamu, Ze. Masalahnya kamu. Kamu membuatku melantur, bingung, kehabisan kata.”

Aku sedikit terhenyak.

Andra berdiri dengan gusar. Ia menatapku serius. “Ikutlah denganku, Ze. Aku ingin kembali waras.”

Dan kali ini aku benar-benar terhenyak. Andra memintaku ikut ke Amerika?

“Aku tidak mengerti, Andra.”

“Baiklah,” Andra mengatur napas. “Siapa dia?”

“Siapa apa Andra?” tanyaku bingung.

“Yang membuatmu seperti sekarang. Berubah.”

“Kamu yang ingin aku berubah, Andra,” ujarku dengan suara bergetar marah. “Ryan hanya teman baikku. Entahlah, mungkin memang terjadi ‘sesuatu’ dengan kami, tapi kami hanya berteman. Dan sekarang kamu bilang aku berubah?”

Hening beberapa saat.

“Tapi aku tidak mempersiapkan diri,” ujar Andra kemudian. “Hatimu sudah berubah.”

“Hatiku?”

“Kamu jatuh hati pada orang lain, Ze?”

“Bukankah itu maumu, Andra?” tanyaku. “Apa kamu sudah lupa? Kamu yang selalu berceloteh tentang penting bagiku untuk mengalihkan perhatian darimu.”

“Tapi bukan hatimu. Berat bagiku, Ze.”

“Jangan bicara soal berat, Andra,” cemoohku. “Kamu tidak tahu bagaimana beratnya hidupku di sini. Setiap hari selama kepergianmu, aku terus bertanya-tanya di mana dan bagaimana kamu. Dan sekarang, kamu di sini, muncul begitu saja, setelah semua yang terjadi, mengabaikanku, dan sekarang memintaku ikut denganmu ke Amerika?”

Kemudian hening lagi. Andra tampak begitu emosional, bahunya melorot. Matanya tampak semakin sayu.

“Aku sudah terlalu lama berduka cita karenamu, seolah-olah kamu sudah meninggal,” ucapku pelan.

“Apakah itu lebih baik?” tanya Andra sedih. “Seandainya aku meninggal?”

“Kamu akan semakin membuatku menderita,” jawabku jujur.

“Kamu akan bebas hidup tanpa memikirkanku, Ze.”

“Aku capek merindukanmu, Andra!” seruku putus asa.

“Aku capek mengabaikanmu,” balas Andra datar. “Berpura-pura bahagia di tanah orang sementara hatiku tetap tak bergerak ke orang lain. Kamu bisa bayangkan bagaimana menggodanya teman-temanku di sana. Party di college bar setiap weekend, mabuk, one night stand—“

One night stand?” potongku ngeri.

Andra menarik napas dan mengembuskannya keras. “Kamu benar-benar ingin tahu kehidupanku di sana? Tak seindah bayanganmu, Ze.”

Aku menggeleng. Bayangan Andra menghabiskan satu malam bersama seseorang, seks dalam keadaan mabuk yang selama ini hanya kulihat di film-film remaja Amerika. Tak kusangka Andra… Napasku tersengal. Tenggorokanku tercekat air mata. Aku tak tahan lagi berada di sini. Aku mau pulang.

Esoknya aku berangkat pagi-pagi dengan Pak Harry. Aku beralasan Ibuku sakit. Anne mengantar kami sampai terminal.

“Salamku untuk Ibumu,” kata Anne berbaik hati.

“Terima kasih.”

“Oh, hampir lupa,” Anne meraih secarik kertas dalam saku jaketnya, menyerahkannya padaku. “Setengah lima pagi tadi Andra berangkat naik gunung. Baru kembali sore nanti. Dia menitipkan ini padamu.”

Naik gunung? Sejak kapan Andra… Sudahlah, tak perlu ada pertanyaan seperti itu lagi. Aku tak mengenal Andra lagi. Mungkin sejak hari ini pun aku sudah harus berhenti mencintainya.

Bus kami berangkat. Aku memilih duduk di belakang, menyendiri, mempersiapkan mental untuk membaca surat dari Andra. Apa lagi kali ini?

Dear Ze,

Maafkan aku. Aku tidak memintamu ikut ke Amerika dengan cara yang pantas. Sebentar lagi sekolahku selesai. Mungkin aku akan benar-benar menetap.

Maafkan aku, lagi. Mengungkit soal one night stand begitu saja. Aku jadi ingat yang terjadi di malam ulang tahunku. Kau ingat, Ze? Kita hampir saja ‘melakukannya’. Kau berdiri di sudut kamar, begitu nyata, begitu transparan, begitu cantik. Tapi, tidak, kita tidak melakukannya. Aku kecewa sebenarnya, tapi tidak. Itu keputusanmu. Sekarang ini, bila kuingat lagi, sejujurnya aku lega kita tidak begitu. Malam itu kau menangis, sedih sekaligus merasa berdosa. Untuk apa, Ze? Kau melakukan hal yang tepat. Dan menyadarkanku satu hal, setelah apa yang kulakukan malam itu, kau tidak harus menungguku bertahun-tahun ini. Aku bukan pria yang pantas kau tunggu.

Aku dihantui perasaan bersalah. ‘Kulampiaskan’ amarahku ke mana-mana. Kupikir, jarak dan zona waktu yang terbalik membuatku gampang melupakanmu. Tapi, malam itu terlalu magis untuk kulupakan. Aku sadar benar, cintaku padamu tidak lebih besar daripada nafsuku. Aku membenci diriku, menghukum diriku dengan menghilang seenaknya. Mengertilah, Ze. Kuharap kau mengerti.

Maafkan aku, sekali lagi. Ini mungkin surat terakhirku untukmu. Permintaanku sederhana. Lupakan aku. Terbanglah ke seluruh penjuru dunia, jelajahi Eropa atau menginap di Iceland untuk melihat pemandangan aurora yang langka. Pergilah, asal jangan menemuiku. Gelar master atau professor yang kudapat di Amerika tidak cukup buatku pantas untukmu.”

Aku yang brengsek,

Andra

Tanganku bergetar. Sekujur tubuhku mendadak dingin. Surat itu basah oleh air mataku yang terus berlinangan. Aku memaafkanmu, Andra. Tapi bagaimana bisa aku hidup tanpa kenangan-kenangan kita?

Advertisements

3 Responses to “A N D R A PART 2 ( AKU YANG BRENGSEK )”

  1. sribuna March 6, 2013 at 3:38 am #

    mmmh…ini bagus sis, sy suka ^^ …sy selalu pengen bisa nulis serapi dan tertata bahasanya loh…its great moga2 suatu saat bisa dibukukan 🙂

    oh yah, jika boleh kasih saran, tokoh zee terlalu pasrah dan kaku … atau ah entahlah mungkin sy terbawa novel2 metropop u/ wanita yang mandiri :))

    keep the high spirit to write sis :),

  2. ridhalili March 6, 2013 at 5:38 am #

    Amiiin, ya Alloooh o: ) terima kasih juga saran soal tokoh Ze. Akan kupertimbangkan di chapter terakhir. Semoga nggak bosan loh bacanya. Sekali lagi, makasih 😀

    ps: kira-kira gimana ya caranya supaya tulisan ini eye-catching di mata para penerbit, seandainya nanti sy kirimkan?

  3. sribuna March 28, 2013 at 11:29 pm #

    mana sudah lanjutannya ? hihihi

    soal penerbitan, itu saran yg dilur jangkauan ….
    tp klu saya coba

    1. bisa baca2 novel teenlit, atau metropop banyak tulisan bagus tuh kayak aleazalea, andrei aksana (preity zinta), sebagian lupa …
    2. memberi pembuka yang membuat pembaca semakin tertarik dg jaan ceritanya
    3. ada humornya juga 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: